Enjoy

Enjoy

Welcome to YoeL's Blog

Thank you for visiting my blog. Hopefully my writing will be a blessing for you. ^^

Sunday, January 7, 2018

Hello HP!

"You don't need everyone to love you, just a few good people." (The Greatest Showman)

Thank you for loving me...

Hello again, lappie.. one year more without you but still survive. It was a good feeling when unboxing something you could buy from your own money, it seems like all your hard work is paid off. :)

Thank you for some research and helping to make this come true and don't know why I just believe there are more dreams will come true together with you.

-YoeL-

Friday, August 5, 2016

Resting Sad Face

One day, a man asked me, "Yuli, why you always look sad most of the time?"

I could not answer him that time. But here is the answer. If there is anyone ask me the same question in the future, then I'll give him/her to read this. :p

http://introvertdear.com/2016/08/02/im-an-infj-and-i-have-resting-sad-face/

Tuesday, August 2, 2016

Life

To live is to love,
To love is to share,
To share is to trust,
To trust is to respect,
To respect is to be human being.

-YoeL-

Saturday, July 2, 2016

Pilihan

Beberapa hari lalu, rekan tempat saya dulu bekerja menyapa lewat whatsapp. Dia adalah admin di fakultas dulu saya kuliah dan bekerja. Nampaknya dia sedang ditugaskan mencari asisten dosen untuk kelas praktek Food & Beverage Service.
Beberapa hari setelahnya, saya menceritakan perihal tsb kepada satu teman lagi yang juga bekerja satu tempat dengan orang di awal cerita tadi. Ternyata teman saya inilah yang memberi ide kepadanya untuk tanya ke saya. 

Cukup menantang sebenarnya tawaran untuk kembali ke dunia pendidikan lagi. Senang mengenal banyak mahasiswa dan melihat mereka menjalani apa yang dulu pernah saya lewati, terlebih berbagi apa yang pernah saya pelajari lebih dulu. Mengajar bukanlah soal memberi ilmu, tetapi perkara berbagi. Membagi pengetahuan, membagi pengalaman.

Siang ini telepon genggam saya berbunyi. (Biasanya saya enggan mengangkat telepon bila dari nomor perbankan yang menawarkan ini dan itu. Kasian sih sebenarnya, karena itu bagian dari pekerjaannya. Maaf ya, hanya saja terkadang cukup mengganggu dihubungi berkali-kali. Saya tipikal yang lebih senang ditawari sesuatu melalui bentuk tulisan. Selain lebih jelas infonya, bisa dibaca kapan pun dan dibuka kembali. Sedangkan bila via telepon, entah apa suasana hati dan isi pikiran si narasumber, belum tentu efektif info yang diberikan setelah menjelaskan panjang lebar. Anyway saya sadar itu bagian dari pekerjaan seseorang di perbankan yang sedang berusaha. Terkadang saya angkat, terkadang saya diamkan bila sedang tidak mood menjawab.)
One of inspired man I ever know in my life called me after some months we lose contact. We talked each others' update of some aspects in our life. But the aim he called me was to offering me a job. Actually he recommended me to his acquaintance who desperate to find an employee with a certain requirement. I feel so touched that he remember of me. Thank you for keep being an inspiring person, though I have left your company.

So, here I am when reflecting to both offering, I feel so blessed to be counted by others. Not because of the offering, but the person behind. They remember me. Though distance separate us, but our heart still connected as friend.
Sorry kalo tulisannya jadi campur antara bahasa indo n english. Bukan mau sok2 keren pake english, tapi ngalir gitu aja pas ngetik. Ini lagi ga pengen banyak mikir n edit tulisan, lagi pengen menuangkan aja.

YoeL

Wednesday, April 20, 2016

Indah

Jawabku semalam.

Masih terbesit jelas saya naik ke sebuah tempat. Biasanya kata naik diasosiasikan dengan sesuatu yang mengarah ke atas. Tapi tidak kali itu. Saya memandang ke bawah. Indah, biru bercampur putih dan bening transparan. Terang.

Karena terlampau indahnya, saya hanya memandang sekejap dan membalikkan badan segera. Terbaring sembari memejamkan mata. Tak lama datanglah seseorang yang memberikan kedua tangannya, berusaha mengajak saya bangun dan menyakinkan untuk membuka mata dan lanjut menikmati keindahan yang ada.

Saya bangun dan menjalankan keseharian, ia masih terasa jelas sekali bahkan ketika menuliskan ini dimana waktu sudah menunjukkan saya akan kembali terlelap lagi.

Satu pertanyaan yang cukup mengganggu benak. Bila ia demikian indahnya, mengapa saya tidak berani menatap lebih lama dan langsung buang muka serta menutup mata? Bukankah rasa takjub itu pada umumnya membuat kita ingin terus memandang? Mungkin ini yang dimaksud dengan "emosi yang tak dapat dijelaskan". Mungkin juga karena ia begitu indah dan saya terlalu takut bahwa hal indah ini pun akan berlalu, sehingga lebih baik ia cukup singgah sekian detik saja dalam memori.

Peristiwa takjub ini memang hanya dalam mimpi, bukan sesuatu yang saya temui dalam aktivitas sadar sepenuhnya dalam hidup. Namun mimpi pun adalah bagian dalam hidup. Sekarang saatnya melanjutkan bagian dalam hidup tersebut.

Selamat malam, selamat bermimpi.
Selamat bertakjub ria.

-YoeL-

Saturday, July 25, 2015

Today


"So - whatever happened to you?"
"Life. Life happened.”

 "Whatever happens tomorrow, we've had today."


- Live each day as if it was your last and love like there's no tomorrow -

Monday, June 29, 2015

Stuck


~Feeling frightened of the things that I don't know~

Keep strong...
Keep walking...
Keep calm...

Be still your soul, dear.

"Those things that hurt, instruct." -BF-

Tuesday, April 7, 2015

2014

12:57 AM 
Saya tahu ini sudah tengah malam. Tapi percayalah, jemari ini tidak terpeleset satu tuts ke kiri saat menetapkan judul.

Mayoritas orang akan merenung dan meninjau ulang kembali tahun yang telah berlalu di akhir tahun atau menjelang tahun baru. Resolusi demi resolusi dipaparkan. Tapi saya tidak terbiasa membuat resolusi tahunan. Bukan karena tidak berharap tahun sekarang lebih baik dari tahun lalu, hanya saja sekarang ini lebih menjalani hidup hari lepas hari. Awal tahun, saya ditanyai oleh atasan, "Apa resolusi kamu di tahun baru?" Jawab saya, "gak ada pak, saya gak biasa buat-buat resolusi."
Aneh? Mungkin.

Saya berharap hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Kalaupun tidak lebih baik, setidaknya tidak lebih buruk.

2014, tahun yang luar biasa bagi saya. Permisi menuangkan kisah tentang dia.
1. Tante. Namanya Princessa Jessie Wijaya. Ya, dia bagaikan putri di hati kami sekeluarga. Saya resmi menjadi seorang tante bagi keponakan saya yang begitu lucu, imut dan menggemaskan. Satu minggu setelah ia lahir, harus mengungsi karena banjir. Sekiranya ini tanda bahwa sejak bayi saja dia sudah diuji untuk menjadi kuat dan harapanku ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat. 
2. Mujizat. Bagian ini tak banyak yang bisa saya bagikan disini. Saya bertumbuh dalam gereja yang kuat mengajarkan doktrin dan seolah membawa saya tidak yakin bahwa mujizat itu masih ada di zaman ini. Tapi sejak malam itu, saya percaya mujizat itu nyata. Sedu sedan menghantarkan rasa lega dan damai. Thank You Jesus.
3. Pindah. Dua kali sudah saya punya niat untuk undur diri dari pekerjaan. Yang kedua kalinya, niat saya sudah bulat. Bahkan saya berdoa meminta Dia untuk memenuhi mauku. Saya memaksa menjadi Tuhan atas diri sendiri. Tapi dasar memang yang namanya Tuhan, Dia tetaplah Tuhan atas hidupku. Yang ada saya tidak jadi undur diri, tetapi pindah bagian. Yang ada saya bukan lagi ingin meninggalkan tempat kerja, tetapi saya semakin mencintainya. Pindah berarti suasana baru dan adaptasi lagi. Usaha dan risiko berjalan di waktu yang bersamaan. Hasilnya seperti apa, tidak tahu. Diperlukan keberanian untuk itu.
4. Perjalanan. Setiap perjalanan punya kisah untuk dikenang dan diceritakan. Setiap perjalanan punya hikmah sebagai pembelajaran. Mengenal diri dan sekeliling lebih dalam lagi. Perjalanan yang bukan saja membawa diri pada suatu destinasi, tetapi lebih pada suatu pendewasaan. Oleh karenanya, tak ada yang perlu disesali. Camkan saja hikmahnya.

-YoeL, yang masih melek karena sebotol Kopiko di siang hari demi terjaga kala bekerja dan kini masih terjaga di kala yang lain terlelap-

Thursday, December 25, 2014

You're Not You

One moment can change everything
One person can give us hope
Let go of who you were and discover
Who you're meant to be
Dear my child, Yuli...
Give peace in your heart and love your neighbor as yourself, but you should love yourself

~ His love is so wonderful, His mercy so bountiful
I can't understand it I confess ~

Monday, May 19, 2014

Grace Unplugged


Belakangan ini seusai pulang kerja di subuh hari, saya lagi suka menonton film sebagai suatu penyegaran. Ada beberapa film bagus yang sudah saya tonton dan mengajarkan sesuatu. Salah satunya berjudul Grace Unplugged. Sebuah film yang mengisahkan seorang putri bernama Grace, bertalenta dalam bidang musik dan sejak kecil bersama ayahnya melayani Tuhan dalam bidang puji-pujian di gereja. Namun seiring ia beranjak dewasa, ia mengidolakan seorang artis yang memengaruhi pemikirannya sehingga ingin menjadi artis. Alhasil ini membuat dia dan ayahnya sering berbeda pendapat dan adu mulut, sampai-sampai ia pergi meninggalkan rumah. 

Hmm.. berselisih dengan salah satu anggota keluarga bukanlah hal yang menyenangkan. Saya pun pernah mengalami beberapa kali. Kalau saat kecil, perselisihan terjadi dalam bentuk perkelahian jasmani, misalnya saling memukul, atau dicakar (dulu saya sering dicakar kakak saat kecil, *curcol.com hahahaa). Tapi beranjak dewasa, biasanya perselisihan itu dalam bentuk perkataan yang bisa menyakitkan hati. Satu waktu ketika kuliah, saya pernah sangat marah pada ibu. Saya berangkat kuliah dengan kondisi mata berkaca-kaca dan berusaha menahan diri agar tidak menangis. Sesampainya di kelas pun saya sulit berkonsentrasi, selain karena masalah tersebut, juga sedang pusing mengurus sebuah acara yang mana dipercayakan sebagai koordinator konsumsi. Hingga tiba saat minggu ujian, hal tersebut memengaruhi hasil akhir ujian. Nilai merah, yap.. saya mendapatkan nilai jelek. Dosen mata kuliah tsb pun sempat kecewa dan terkejut. Sedih dan kecewa pada diri sendiri. Saya gagal mendapatkan nilai lebih baik. Saya tidak menyalahkan keadaan, mungkin memang masalah yang terjadi memengaruhi konsentrasi saya, tetapi hal itu tidaklah semestinya menjadi alasan. Apapun yang terjadi di luar diri kita memang berada di luar kontrol dan kendali kita, tapi diri kita sendirilah yang harus mengontrol apa yang terjadi atas diri kita. 

Di tengah perjalanan Grace menentang orang tua dan Tuhan, ia diingatkan oleh seorang pria dan dibimbing kembali ke jalan yang benar. Ya, kita butuh teman yang dapat mengingatkan ketika kita lengah, goyah, dingin, jauh atau pun suam-suam kuku dari Dia. Pertanyaannya, sudahkah saya menjadi teman yang seperti itu? Punyakah saya teman yang demikian? Harapan saya kita semua bisa menjadi teman dan punya teman yang demikian.

Tatkala Grace berusaha keras menulis lagu untuk albumnya sebagai artis, dia tidak berhasil. Namun ketika ia kembali pada keluarganya dan Tuhan, ia menuliskan dan memainkan sebuah lagu yang indah. Saya menyukai isi lirik maupun melodi dari lagu tersebut. 

Menjelang tidur saya merenungkan pelajaran dari film ini. Adalah sesuatu yang umum,  anak muda di usia beranjak dewasa mengejar akan kesuksesan. Sering kali yang menjadi penilaian sukses adalah menjadi tenar atau kaya. Dari yang dahulunya bukan siapa-siapa menjadi Si “Apa”, si artis; si penyanyi; si jutawan, si komedian, dsb. Dari yang dahulunya tidak punya apa-apa menjadi punya “Apa”, rumah, mobil, perhiasan, properti, saham, dsb. Tapi apa itu sukses? Benarkah dengan menjadi tenar dan kaya adalah parameter bahwa kita sudah mencapai yang namanya sukses? Bagi saya, kedua itu tidaklah salah. Memang bisa jadi kedua itu menjadi ukuran seseorang menjadi sukses. Apabila menjadi tenar dan kaya membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya, apa salahnya? Tapi kedua itu menjadi tidak benar apabila hidup kita hanya difokuskan mengejar kedua itu, padahal itu bukan jalan yang Tuhan ingin kita tempuh. 

Beberapa kali apa yang saya inginkan dan rencanakan tidak seiring dengan apa yang saya jalankan. Namun ketika saya tempuh dan jalani, saat saya menoleh kembali ke belakang nampaknya apa yang kita jalani pada suatu waktu adalah apa yang tengah dipersiapkan Tuhan bagi kita untuk jalani di waktu berikutnya. Saya percaya itu. =)

All the way You lead us, let us be there. If it’s not Your way, let us be somewhere. -YoeL-

Monday, March 25, 2013

Sensasi Rumah Tahanan


Bermula dari kebutuhan perut dan tanpa direncanakan mau apa dan dimana. Menyusuri jalan, lihat ke kiri dan ke kanan. Tampak sebuah spanduk dengan tulisan menggunakan kosa kata bahasa khek bila saya tidak salah. Beberapa kata saya mengerti, beberapa tidak. Dengan modal merasa isi spanduk lucu ditambah bumbu penasaran, maka saya menyarankan teman makan di tempat itu saja.
Se kiak artinya bocah. Mo yong, tak guna. Mei kuan sih, tidak masalah. Mo li jiu, tidak masuk akal. Bo tahan, tidak tahan. Sao het, terbakar habis. Lihai, dahsyat. Sen cin ping, gila. Bo huat, tak berdaya. Auban, keras kepala. Amsyong, babak belur. ^__^

Sebelum melangkah masuk ada pintu seperti jeruji. Kemudian disambut pramusaji dengan seragam garis hitam putih bak narapidana. Ya, konsep restaurant ini penjara. Dinding dengan desain kota tua serta batu bata berwarna abu-abu dibubuhi beberapa tulisan layaknya penjara. “The happiest prisoner on earth,” salah satunya. Bisa jadi ini kutipan yang menjadi tagline restaurant ini. Memang saya akui pelayanan yang diberikan baik dan memuaskan. Bukan sembarang penjara! =)

Menu Bong Kopitown ini disajikan seperti dan terbuat dari bahan koran, dengan judul “Old Town Post.” Selain tampilan menu makanan dan minuman, ada juga kisah-kisah fiksi di dalamnya. Karena unik, proses memesan makanan pun agak lama. Tamu seolah digiring untuk memperhatikan isi menu. Dan akhirnya saya baru sadar bahwa ini adalah restaurant milik motivator muda ternama di Indonesia yaitu Bong Chandra.

Saat minuman diantarkan ke meja, saya cukup antusias. Mengapa? Bukan karena sedang dahaga, tetapi minuman yang saya pesan disajikan dalam gelas stainless yang digunakan orang-orang zaman dulu. Selain itu menu pesanan teman saya pun disajikan dalam piring stainless.

Teh dan asapnya
Deborah bersama nasi penjara

Grandma Chicken Pitan Porridge
Siomay

Seusai makan, tagihan kami pun diberikan dalam bill cover yang begitu sederhana. Terbuat dari semacam kertas karton. Harga menu restaurant ini terjangkau, berkisar antara ribuan hingga empat puluh ribuan. Namun untuk rasa, bagi saya standard sekali. Siomaynya kurang enak. Sayang sekali suasana dan pelayanan sudah mendukung, ditambah dengan perkakas makan yang unik namun rasanya kurang memuaskan. Alangkah baiknya apabila suasana, pelayanan dan rasa terpaket menjadi satu pengalaman yang sempurna.

-YoeL-

Monday, March 18, 2013

meNYEPI


Bagi pekerja kantoran, selain hari akhir pekan maka tanggal merah adalah SESUATU. Tak mau kehilangan kesempatan untuk menyegarkan jiwa dan raga dari kepenatan rutinitas, maka tanggal 12 Maret 2013 kami “merayakan” tanggal merah nyepi. Ide muncul dua hari sebelumnya. Teman dekat saya bernama Deborah yang kerap kali kami panggil dengan sebutan “Aboiiii” ingin berlibur ke Bogor. Di tengah perjalanan di sebuah mall seusai menonton film dengan alur cerita yang ga jelas (korban penipuan synopsis dan actor Brad Pitt, so ga selamanya aktor film oke = film bagus, camkan itu saudara-saudara! =D), saya teringat seorang teman yang berdomisili di Bogor. Tik ketak ketik chat di BBM, alhasil memperoleh satu nama tempat wisata yaitu “Curug Cilember”. Sepulangnya dari mall, kami langsung melakukan technical meeting, alias wawancara si embah Google.

Meski tanggal 11 Maret adalah Senin, hari kejepit dan tetep kudu masuk kerja, karena besoknya mau jalan-jalan, jadi agak sedikit bersemangat kerja deh..hehehee.. Pulang kerja coba nyari sandal gunung di mall Citraland tapi ga berhasil (derita kaki ukuran mini). Mau ga mau pake sepatu sport, nyari di rumah ga ketemu karena abis dipindah-pindahin bekas banjir beberapa bulan lalu. Senjata terakhir pinjem sama nona Aboi.

Selasa pagi, 03.30 saya sudah bangun. Siap-siap dan sarapan indomie goreng lalu berangkat ke rumah Irene, tempat kami berkumpul. Dari sana kami (Irene, Aboi, Acay, Edwin dan saya) naik taksi ke Stasiun Kota (DHI-Stasiun Kota = Rp 30.000, karena minimum payment by call, argonya sejatinya Rp 26.000). Cuk kucluk kucluk hampiri loket beli 5 tiket KA Commuter Line Rp 9.000/tiket. Jadwal keberangkatan seharusnya yaitu pukul 06.02 tapi kenyataannya kami berangkat pukul 07.26 karena kereta tujuan Bogor ga dateng2, yang dateng tujuan Depok terusss! Ditambah petugas yang salah informasi dan tidak sinkronnya petugas PAP dan security dalam KA sehingga membuat penumpang ragu-ragu antara naik atau turun. Grrr….! Sabar, sabar.. mau jalan-jalan ga boleh bête-bete. =D

Lamanya di kereta dari Jakarta Kota – Bogor sekitar 1 jam 15 menit. Kami tiba di Bogor hampir pukul 09.00. Rencananya mau naik dan oper angkot dua kali dilanjuti dengan ngojek, tapi karena si bapak angkot mau “menculik” kami dengan mencater angkotnya dan hasil tawar-menawar dengan Pak Ujip maka dengan harga Rp 105.000 kami diantar sampai depan pintu masuk Curug Cilember. Pak Ujip juga menawarkan untuk menjemput pulang nanti. Karena belum pasti maka kami belum mengiyakan dan hanya meminta nomor teleponnya saja.

Dari stasiun Bogor sampai Curug Cilember melahap waktu sekitar satu jam lebih. Karena tidak macet, sekitar pukul 10.30 kami sudah tiba. Perut pun sudah keroncongan minta diperhatikan. Di depan pintu masuk, ada beberapa kedai makanan. Jadi bagi yang mau ke Curug, bisa mencharge kalori dulu buat trekking. Nyam nyam nyam,, nasi + teri kacang + ikan tongkol + kentang balado = Rp 16.000 ^-^

Tiket masuk Rp 13.000/orang. Di dalam tersedia juga permainan flying fox, yang mau maen biayanya Rp. 20.000/orang. Tapi kita ga maen sihhh, cuma liatin anak kecil aja. Di sana juga ada Taman Nasional Kupu-Kupu, biayanya Rp 6.000/orang untuk WNI, dan Rp. “lupa” untuk WNA (kalo ga salah inget 20rb).

Dari pintu depan ke Curug 7 lamanya sekitar 15 menit. Jadi begini, di Curug Cilember itu ada yang namanya Curug 7 sampai Curug 1. Curug 7 yang terendah dan Curug 1 yang tertinggi. Semakin tinggi, medan trekkingnya juga semakin sulit. Di Curug 7 terlalu padat wisatawannya. Kami hanya main sebentar dan mengambil foto.
Curug 7
Dilanjutkan ke Curug 5, karena Curug 6 tidak bisa dilewati (hasil googling dan memang pas disana signage-nya mengarahkan wisatawan ke curug 5). Dari Curug 7 ke Curug 5 juga sekitar 15 menit. Disini tidak sepadat Curug 7, agak mendingan sedikit.
Curug 5
Nah dekat curug 5 ini ada warung. Yah nona Aboiii kelaperan lagi, dia makan pop mie dan sebagai teman yang baik gue temenin dia makan deh (boonk dehhh, padahal ngiler and laper mata aja sebenernya, hahahaaaa). Pop mie = Rp 7.000
Ini warungnya...
Perjalanan pun dilanjutkan ke Curug 4. Makin naik medannya makin susah, engos-engosannn booo! Dan semakin naik akhirnya bukan tiba di Curug 4 tapi di Curug 2. Capeknya bukan main, tapi semuanya itu terbayar lunas, tunai dan sah di tempat begitu ngeliat air terjunnya, ngerasain angin dan air. Dinginnya sampe tangan kami tampak seperti kulit ayam karena menggigil kedinginan. Karena udah susah payah sampe sana dan mau ngerasain fantasi di bawah air terjun langsung, saya bela-belain copotin softlen dan menuju ke bawah air terjun. Wowww.. disana kita ga bisa buka mata dan ngeliat ke depan, cuma bisa nunduk dan membiarkan debit air terjun menghantam tubuh kita, agak sakit sihhh, tapi seruuu bangetttttttt! ^____^
Curug 2

Selesai bermain agak lama disana (dibandingkan di Curug 7 dan 5 karena Curug 2 cenderung lebih sedikit wisatawannya dan lebih indah), kami turun kembali ke Curug 5. Perjalanan turun lebih sulit dan mengerikan daripada naik. Karena lahan yang curam dan licin, kalo ga hati-hati bisa terpeleset dan ngeguling ke bawah. Ini beneran kaga lebay. Karena ada satu cewe hampir aja jatuh dan untungnya ada temannya yang menopang cewe itu. Kalo ga mungkin dia udah jatuh kepalanya kena batu di bawah dan ngeguling ke bawah. Serem abis ngeliat adegan itu. Abis itu jadi lebih hati-hati lagi pas turun, menapaki tanah dengan benar dan pastiin kalo ga licin. Hampir sudah mau sampai, langit tampak gelap sekali. Dan gak lama kami tiba di pos warung dekat Curug 5, byarrrrrrrrr.. hujan turun. Banyak orang berteduh di warung itu dan pesen indomie sampe ngantri-ngantri. Saat itu hujan menjadi berkah pemasukan bagi pengelola warung, tapi menjadi kesulitan bagi wisatawan yang tengah turun dari Curug 2 ke 5. Bayangkan saja kalo ga hujan aja uda licin apalagi ditambah hujan. Bersyukur banget kita tiba sesaat sebelum hujan turun.

Sembari menunggu hujan reda, pesan indomie juga deh akhirnya. Dan o yeahhh, hari ini udah makan mie instan 3x dalam sehari. Gak mau makan mie lagi untuk jangka waktu 1-2 minggu ke depan. Di sana bertemu dengan temannya Edwin dan akhirnya kami ikut mobil temannya alias nebeng sampe stasiun Bogor. Cuk kucluk kucluk ke loket beli tiket dan lihat jadwal kereta.

Berhubung masih ada waktu, dipake untuk kuliner di Bogor. Kita naik angkot Rp. 2.000/orang ke rumah makan Soto Mie Bogor. Karena masih kenyang jadinya ga makan lagi, cuma teman-teman aja yang kuliner. Kembali ke stasiun bogor lagi naik angkot dan ini memakan waktu sekitar 2 jam karena macet  parah. Angkot dari yang ada penumpang lain sampe tinggal kita berlima, serasa angkot pribadi. Foto-foto pula sampe diliatin pengendara motor.. hahaha.. 
like a boss! ^^
Sampe di stasiun pas sekali dengan keberangkatan kereta ke Manggarai yaitu jam 8 malam. Jadinya kami naik meski tujuan kami adalah Jakarta Kota. Kalau harus menunggu lagi tujuan langsung Bogor-Jakarta Kota yang mana jam 9 malam, harus menunggu lagi satu jam. Transit di Manggarai dan menunggu kereta yang ke arah Kota, ga terlalu lama untungnya. Dari Kota naik taksi lagi ke DHI, rumah Irene.. dan abang taksinya ga mau pake argo melainkan borongan dan malah dikasih harga murah, ga biasanya. Kami di-charge Rp 20.000 saja.

Sesampainya di rumah Irene, saya berpikir betapa perjalanan kali ini disertai banget sama Tuhan.
Pertama, waktu turun ke Curug 5 gak kehujanan dan selamat meski susah dan licin.
liat tuh medannya x_x
Kedua, dari total pengeluaran yang relatif murah, bayangkan kami seorang hanya terkena Rp. 66.000/orang exclude makan. Perjalanan kami kali ini ada bendaharanya lho, yang dijabat oleh nona Aboi. Jadi kami mengeluarkan Rp 100.000/orang di awal yang uangnya akan dipakai untuk segala keperluan yang sifatnya bersama yaitu bayar taksi, tiket, angkutan. Hanya makan saja kami memakai uang pribadi sendiri.
Ketiga, bertemu jemaat gereja cabang yang bersedia nganterin kita sampe stasiun Bogor, kalau gak kita kudu cari cara gimana turun ke Bogor. Karena dari Curug Cilember ke bawah tempat bisa naik angkot atau kendaraan umum cukup jauh. Juga medan yang sulit ditempuh tapi kami tidak kekurangan suatu apa pun, selamat sehat sentosa sampai di Jakarta. Cuma lutut aja yang ngilu-ngilu. Sesampainya di rumah dan habis mandi langsung pake krim counterpain and it really really counter my pain away ^0^ besokannya lutut udah biasa-biasa aja dan badan juga ga capek sedikit pun. Ajaib dan heran, tapi bersyukur banget banget banget.

We are young!!! ^o^
Last, but not least.. 
Good trip with good friends through His blessing along the way. 
Thanks, Lord! =)

-YoeL-

Saturday, February 9, 2013

Death Do Us Apart

Kamis pagi, tante saya meninggalkan dunia ini. Saya memang tidak memiliki relasi yang dekat sekali dengannya, namun rasa berduka itu pasti ada. Saya menanyakan orang rumah bagaimana reaksi nenek yaitu ibu dari tante saya ketika mendengar berita tsb. Nenek duduk lemas di kursinya dan langsung menangis keras layaknya seorang anak kecil, bahkan sebelum ia mendengar kalimat berita kematian anaknya. Namun ia tahu, bahwa kedatangan kedua anaknya di pagi hari yang tidak biasanya adalah menandakan firasat buruk.
Selain itu rasa berduka timbul ketika membayangkan apa yang dirasakan oleh anak-anak dari tante. Saya pernah terlebih dahulu mengalami apa yang baru saja mereka lalui. Saya tahu persis bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Memang yang sedikit berbeda adalah kalau saya kehilangan ayah, sepupu saya kehilangan ibu. Kehilangan itu menyakitkan. Terlebih lagi bila itu orang yang terdekat dan kita kasihi.

Anyway, all of us will face the death.  Life is uncertain, but death is certain. Dan hal ini yang sering menghantui saya, bukan saja ketika mendengar berita kematian. Namun di hari-hari yang biasa, ketika sedang ngobrol atau jalan-jalan dengan teman bahkan menatap orang yang tak saya kenal di angkutan umum sekalipun... terbesit dalam pikiranku bahwa orang yang ada di hadapanku saat ini akan mati suatu hari nanti. Suatu pikiran yang mengerikan bagi saya. Bagaimana bila itu terjadi pada keluarga terdekat, sahabat dan rekan dekat? Pasti akan ada saatnya, entah kapan.  Saya takut. Kehilangan demi kehilangan... lagi-lagi, mau tidak mau, suka tidak suka harus ditelan dan berakhir sesak di dada.

Saya pun akan mati. Namun jarang terbesit pikiran tentang apa yang akan orang lain rasakan ketika mendengar kabar kematian saya. Yang saya tahu ketika hidup saya berusaha menoreh kisah dalam hidup mereka. Lupa itu manusiawi, tapi apa yang berkesan tak mudah dilupakan. Ia akan tertoreh dengan sendirinya dalam kanvas hati seseorang. Tak akan lekang oleh waktu sekalipun. Ia tetap hadir, meski fisik ini sudah tiada.

Dan saat ini pukul 11 siang, tante dalam proses dikebumikan. Selamat jalan, Tante...

Death will come, for me and you. It doesn't matter, as long as you are in my heart and I am in your heart. It's enough. Death only separate our body, not our soul. -YoeL-

Monday, January 28, 2013

Sarapan Pagi: Amplop

Academic Quality And Special Project. Isinya adalah penilaian mahasiswa tentang dosen mengenai mata kuliah yang diajarkan. Tentunya dalam hal ini saya bukan berperan sebagai dosen, tetapi asisten dosen yang membantu mahasiswa/i dalam kelas praktek. 

Penilaiannya ada dalam bentuk angka maupun pernyataan terbuka dimana mahasiswa dapat memberikan komentar apapun mengenai kelebihan dan kekurangan si pengajar. Yang disajikan dalam bentuk angka saya tidak tahu artinya apa karena belum pernah mendengar penjelasan range nilai tersebut. Tidak terlalu tertarik juga untuk melihat hasilnya. Namun yang menjadi hasrat saya untuk membaca isi amplop tsb yaitu bagian komentar mahasiswa dalam kata-kata.

Seusai membaca, saya hanya bisa tersenyum. Tidak ada rasa GR untuk komentar positif atau amarah sedikit pun terhadap komentar negatif. Hanya terbesit kalimat seseorang yang pernah berkata, "Menjadi leader bukan ingin dibenci, tapi harus siap dibenci." 

Terima kasih atas komentar positif dan negatifnya, mahasiswa-mahasiswiku. Yang positif akan saya coba pertahankan di semester ini, yang negatif menjadi bahan untuk saya berkaca (ternyata ngaca ngga melulu lewat kaca lhooo :D). 
It's not mirror mirror hanging on the wall, but mirror mirror hanging on the paper ^__^


Tuesday, December 25, 2012

A Prayer For Humility

Mighty God and gentle Lamb, Lord of all creation
How we long to know You, how we strive to serve You
Help us now to love You even more

Give us humble hearts to praise You,
and listening ears to hear Your voice,
wiling hands to serve You,
thankful spirits to rejoice.
Lord of all, we adore You
and we bring this prayer before You.
Create in us, humble hearts

When our thoughts turn proud,
remind us of the grace You freely give
When we lose our way, Lord find us
draw us close to You again
.

Amen. 

-Mark Patterson-

Friday, December 21, 2012

Face It

English is a common subject since we was at school. Besides learn English at school, I ever took English course when I was a child. I still remember, I went to the course place by ‘bemo’ and paid five hundred IDR at that time (Now, the rate is two thousand and five hundred IDR). Then I ever studied too at Eloquence, Green Garden area, together with children (daughter and son) of my parent’s friend. I walked to their house, me with their driver picked up the girl and boy at their school then went to Eloquence.

English, for me is such a scary thing. In course class, I afraid can’t answer question. The same thing happened at high school, I afraid can’t fill the blank missing lyric of a song and answer question after watching a movie in Conversation Lab Class. My English was so weak at that time.

Then I studied at UPH (Pelita Harapan University) which well-known as global campus and most of intermediate language using English. Though I was in regular class, but books we used are in English. To be graduated from UPH, the students should get the score of IELTS (International English Language Test System) minimal 45 from 120. We should take the test, search place that have IELTS and paid by ourselves. In curriculum, there is IBT subject to prepare students for IELTS. But for some of my friends, only learn from the class is not enough. They took private course, their teacher was the best graduated student from UPH who got the IELTS score 112/120. I know my financial condition couldn’t let me took private course as like as my friends. They should pay around two millions for ten meetings (if I don’t wrong remember the story from my friends). So the solution and strategies I could do:
  1. Pay attention and be serious in IBT (Internet-Based Test) class, do all tasks and review lessons that given by lecturer
  2. I bought some DVDs and set the subtitle in English, and every time I found the vocabulary I didn’t know, wrote it down and found out the meaning in dictionary
Me between my other four friends, took the test by myself which near from my area, West Jakarta. I went there alone, tried to find out how to get there by public transportation (near the test area, I have passed too far, so I should took another ‘angkot’ in reverse direction). After the test finished, on my way to home at ‘bemo’, I really feel want to cry. I afraid couldn’t pass the score needed. I afraid should take the test again and it mean I should pay again for amount $165. I don’t want be a burden for my sibling to pay so much if I failed.

When the score has released, I was like shocked for the score I got. It’s far beyond what I guess because I thought I will failed. Many part of the test I can’t answer. And between my friends who took private course, I got higher score than them. I am not proud of, just think they might be got better score than me because they have practiced more. I really give thanks.
Since then, I am not as scared as before again with English. I even choose article, listen the video, and set movie subtitle in English. And if I found unknown vocabulary, I search the meaning. I do that in aim to improve my English. I still on the process of learning and never stop to learn.

Last but not least, I learn that to paralyse the things we scared of, we should interlocked with them often as possible. Not to run away, but face it.

-YoeL-

Saturday, October 27, 2012

Membaca

Sejak kecil kita sudah belajar membaca. Orang yang terlahir dalam keluarga dengan budaya suka membaca dan didikan akan pentingnya membaca akan menuruni hobi membaca itu. Namun tidak demikian halnya dengan saya. Orang tua saya tidak, kakak-kakakku tidak, dan saya pun tidak.

Saat sekolah di Amitayus, saya punya seorang teman yang wawasannya sangat luas. Ia tahu banyak hal tentang sejarah, politik dan berita-berita yang kurun terjadi. Hal tersebut dikarenakan ia suka membaca buku dan koran. Saat itu saya sadar betapa pentingnya membaca. Saya mencoba untuk  belajar darinya, berlangganan koran, paksa diri untuk membaca walaupun tidak suka. Ternyata tidak tahan dalam waktu yang lama.

Memasuki SMA, saya dikelilingi orang-orang yang hobi membaca. Pentingnya membaca sekali lagi diingatkan. Sejak saat itu saya mulai paksa diri membaca. Membeli buku, meng-highlight kalimat-kalimat penting dengan stabilo. Bukan buku text book tentunya, saya bukan tipe kutu buku.. hehehe..  Awalnya adalah buku-buku bertemakan iman dan kepercayaan Kristen. Lalu berlanjut dengan buku komedi dan novel. Pengarang favorit untuk buku komedi, Raditya Dika dan novel, Paulo Coelho.

Lambat laun saya menikmati rasa dan aroma dari buku. Kini jumlah buku yang saya miliki masih berjumlah sedikit dibandingkan orang-orang yang jumlah bukunya hingga ratusan atau bahkan ribuan. Ratusan pun belum ada. Namun bila flashback lagi bagaimana saya dulunya dan melihat sekarang, bagi saya jumlah yang dimiliki saat ini sudah bisa dikatakan lumayan.

Mengisi hari libur, saya mencoba mengupdates data "My Library.xls". Dan juga dalam website www.goodreads.com yang saya sudah buat sejak bulan Januari, namun belum diisi apa-apa. :D Cukup menyenangkan. Saya jadi tahu jumlah buku yang dimiliki, yang sudah terbaca, dan yang belum (akan) habis dibaca.

Sejak bulan Agustus hingga sekarang, muatan kerja saya di kantor lumayan padat. Sepulangnya sampai di rumah sudah tepar. Akhir pekan biasanya olahraga bulutangkis bersama teman-teman. Beberapa bulan kemarin yaitu September dan Oktober juga banyak menghadiri undangan pernikahan di akhir pekan. Saya sempat vakum membaca. Dan entah mengapa, semingguan ini kerinduan membaca itu menghampiri. Ditambah lagi rangsangan untuk mencari tahu dan memperdalam bidang saya tentang perhotelan. Semoga bukan hanya hasrat sesaat, tapi spirit belajar lewat membaca tidak sirna. Keep reading, YoeL! =)

My Library ^_^

Saturday, August 25, 2012

Disappointed

no need other to tell
just listen to the heart
and the eyes
enough to know

I know you know I know you know I know.
-YoeL-

Saturday, August 18, 2012

Keluguan Hati

Karena telah menjalani hidupnya sepenuh-penuhnya,
rerumputan yang kering gersang 
tetap menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang.

Bunga-bunga sekadar berbunga,
Dan ini mereka lakukan sebaik-baiknya.
Bunga lili putih yang mekar tak terlihat di lembah,
Tak butuh menjelaskan dirinya pada siapa-siapa;
Dia hidup hanya demi keindahan.
Namun kata "hanya" itu tak diterima manusia.

Andai tomat-tomat ingin menjadi melon,
Betapa menggelikannya.
Heran sungguh saya melihat,
Begitu banyak orang ingin menjadi yang bukan diri mereka;
Apa gunanya menjadikan diri sendiri bahan tertawaan?

Tak perlu kita selalu berpura-pura tangguh,
Tak guna membuktikan sepanjang waktu 
bahwa semuanya baik-baik saja,
Usahlah memikirkan apa kata orang,
Menangislah kalau perlu,
Menumpahkan air mata itu baik
(sebab hanya dengan begitu kita akan bisa tersenyum lagi).

-Mitsuo Aida-

Wednesday, August 15, 2012

Teaching

Yesterday I was in charge on behalf the pastry chef who couldn't come and teach. I gave pastry class briefing for first semester students. Explain to them about grooming, rules and equipments. It was my first time talking in front of 26 students for one hour. In the end of class, I felt so thirsty. Luckily, the class was under my control. Their attitude was good. Finally, I could understand how is the feeling to be a lecture. I think, it's not just need the knowledge, skill or experience. "It's need the strategy also to control the voice while giving lecturing," said Mr. Nonot to me.

Last night, I've got message from another lecturer that she has leave day for today. She asked me to be in charge in her class and teach about the introduction of housekeeping supplies and material. She gave me the choice also if I'm not confidence, just check the students' grooming and check list their attendance. I asked her back, "Is it should be in english? My english is not so good, if I can speak in Bahasa then I'll try to give  them the introduction." Then she replied it's OK in Bahasa. So, this morning I prepared it. Before the class, Mr. Nonot remind me that teaching consist of three parts: opening, content and closing. He gave me the examples how to give opening, how to make two ways interaction with students and how to close the class meeting. I tried to apply his advices in these two days while I taught in the housekeeping class. Thanks a lot Pak Noy! ^_^

Tomorrow, I should give the same briefing of pastry class as like yesterday to another class. Hope I could improve better. 

I won't consider these three days as a burden, but as an opportunity for me to learn and grow up. Try to think positively in every situation that given. 
Happy teaching! =D

"It's not that I'm smarter than them, but I learned and experienced before, so I share it."
-YoeL-
on my FO desk