Enjoy

Enjoy

Welcome to YoeL's Blog

Thank you for visiting my blog. Hopefully my writing will be a blessing for you. ^^

Tuesday, April 7, 2015

2014

12:57 AM 
Saya tahu ini sudah tengah malam. Tapi percayalah, jemari ini tidak terpeleset satu tuts ke kiri saat menetapkan judul.

Mayoritas orang akan merenung dan meninjau ulang kembali tahun yang telah berlalu di akhir tahun atau menjelang tahun baru. Resolusi demi resolusi dipaparkan. Tapi saya tidak terbiasa membuat resolusi tahunan. Bukan karena tidak berharap tahun sekarang lebih baik dari tahun lalu, hanya saja sekarang ini lebih menjalani hidup hari lepas hari. Awal tahun, saya ditanyai oleh atasan, "Apa resolusi kamu di tahun baru?" Jawab saya, "gak ada pak, saya gak biasa buat-buat resolusi."
Aneh? Mungkin.

Saya berharap hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Kalaupun tidak lebih baik, setidaknya tidak lebih buruk.

2014, tahun yang luar biasa bagi saya. Permisi menuangkan kisah tentang dia.
1. Tante. Namanya Princessa Jessie Wijaya. Ya, dia bagaikan putri di hati kami sekeluarga. Saya resmi menjadi seorang tante bagi keponakan saya yang begitu lucu, imut dan menggemaskan. Satu minggu setelah ia lahir, harus mengungsi karena banjir. Sekiranya ini tanda bahwa sejak bayi saja dia sudah diuji untuk menjadi kuat dan harapanku ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat. 
2. Mujizat. Bagian ini tak banyak yang bisa saya bagikan disini. Saya bertumbuh dalam gereja yang kuat mengajarkan doktrin dan seolah membawa saya tidak yakin bahwa mujizat itu masih ada di zaman ini. Tapi sejak malam itu, saya percaya mujizat itu nyata. Sedu sedan menghantarkan rasa lega dan damai. Thank You Jesus.
3. Pindah. Dua kali sudah saya punya niat untuk undur diri dari pekerjaan. Yang kedua kalinya, niat saya sudah bulat. Bahkan saya berdoa meminta Dia untuk memenuhi mauku. Saya memaksa menjadi Tuhan atas diri sendiri. Tapi dasar memang yang namanya Tuhan, Dia tetaplah Tuhan atas hidupku. Yang ada saya tidak jadi undur diri, tetapi pindah bagian. Yang ada saya bukan lagi ingin meninggalkan tempat kerja, tetapi saya semakin mencintainya. Pindah berarti suasana baru dan adaptasi lagi. Usaha dan risiko berjalan di waktu yang bersamaan. Hasilnya seperti apa, tidak tahu. Diperlukan keberanian untuk itu.
4. Perjalanan. Setiap perjalanan punya kisah untuk dikenang dan diceritakan. Setiap perjalanan punya hikmah sebagai pembelajaran. Mengenal diri dan sekeliling lebih dalam lagi. Perjalanan yang bukan saja membawa diri pada suatu destinasi, tetapi lebih pada suatu pendewasaan. Oleh karenanya, tak ada yang perlu disesali. Camkan saja hikmahnya.

-YoeL, yang masih melek karena sebotol Kopiko di siang hari demi terjaga kala bekerja dan kini masih terjaga di kala yang lain terlelap-

Thursday, December 25, 2014

You're Not You

One moment can change everything
One person can give us hope
Let go of who you were and discover
Who you're meant to be
Dear my child, Yuli...
Give peace in your heart and love your neighbor as yourself, but you should love yourself

~ His love is so wonderful, His mercy so bountiful
I can't understand it I confess ~

Monday, May 19, 2014

Grace Unplugged


Belakangan ini seusai pulang kerja di subuh hari, saya lagi suka menonton film sebagai suatu penyegaran. Ada beberapa film bagus yang sudah saya tonton dan mengajarkan sesuatu. Salah satunya berjudul Grace Unplugged. Sebuah film yang mengisahkan seorang putri bernama Grace, bertalenta dalam bidang musik dan sejak kecil bersama ayahnya melayani Tuhan dalam bidang puji-pujian di gereja. Namun seiring ia beranjak dewasa, ia mengidolakan seorang artis yang memengaruhi pemikirannya sehingga ingin menjadi artis. Alhasil ini membuat dia dan ayahnya sering berbeda pendapat dan adu mulut, sampai-sampai ia pergi meninggalkan rumah. 

Hmm.. berselisih dengan salah satu anggota keluarga bukanlah hal yang menyenangkan. Saya pun pernah mengalami beberapa kali. Kalau saat kecil, perselisihan terjadi dalam bentuk perkelahian jasmani, misalnya saling memukul, atau dicakar (dulu saya sering dicakar kakak saat kecil, *curcol.com hahahaa). Tapi beranjak dewasa, biasanya perselisihan itu dalam bentuk perkataan yang bisa menyakitkan hati. Satu waktu ketika kuliah, saya pernah sangat marah pada ibu. Saya berangkat kuliah dengan kondisi mata berkaca-kaca dan berusaha menahan diri agar tidak menangis. Sesampainya di kelas pun saya sulit berkonsentrasi, selain karena masalah tersebut, juga sedang pusing mengurus sebuah acara yang mana dipercayakan sebagai koordinator konsumsi. Hingga tiba saat minggu ujian, hal tersebut memengaruhi hasil akhir ujian. Nilai merah, yap.. saya mendapatkan nilai jelek. Dosen mata kuliah tsb pun sempat kecewa dan terkejut. Sedih dan kecewa pada diri sendiri. Saya gagal mendapatkan nilai lebih baik. Saya tidak menyalahkan keadaan, mungkin memang masalah yang terjadi memengaruhi konsentrasi saya, tetapi hal itu tidaklah semestinya menjadi alasan. Apapun yang terjadi di luar diri kita memang berada di luar kontrol dan kendali kita, tapi diri kita sendirilah yang harus mengontrol apa yang terjadi atas diri kita. 

Di tengah perjalanan Grace menentang orang tua dan Tuhan, ia diingatkan oleh seorang pria dan dibimbing kembali ke jalan yang benar. Ya, kita butuh teman yang dapat mengingatkan ketika kita lengah, goyah, dingin, jauh atau pun suam-suam kuku dari Dia. Pertanyaannya, sudahkah saya menjadi teman yang seperti itu? Punyakah saya teman yang demikian? Harapan saya kita semua bisa menjadi teman dan punya teman yang demikian.

Tatkala Grace berusaha keras menulis lagu untuk albumnya sebagai artis, dia tidak berhasil. Namun ketika ia kembali pada keluarganya dan Tuhan, ia menuliskan dan memainkan sebuah lagu yang indah. Saya menyukai isi lirik maupun melodi dari lagu tersebut. 

Menjelang tidur saya merenungkan pelajaran dari film ini. Adalah sesuatu yang umum,  anak muda di usia beranjak dewasa mengejar akan kesuksesan. Sering kali yang menjadi penilaian sukses adalah menjadi tenar atau kaya. Dari yang dahulunya bukan siapa-siapa menjadi Si “Apa”, si artis; si penyanyi; si jutawan, si komedian, dsb. Dari yang dahulunya tidak punya apa-apa menjadi punya “Apa”, rumah, mobil, perhiasan, properti, saham, dsb. Tapi apa itu sukses? Benarkah dengan menjadi tenar dan kaya adalah parameter bahwa kita sudah mencapai yang namanya sukses? Bagi saya, kedua itu tidaklah salah. Memang bisa jadi kedua itu menjadi ukuran seseorang menjadi sukses. Apabila menjadi tenar dan kaya membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya, apa salahnya? Tapi kedua itu menjadi tidak benar apabila hidup kita hanya difokuskan mengejar kedua itu, padahal itu bukan jalan yang Tuhan ingin kita tempuh. 

Beberapa kali apa yang saya inginkan dan rencanakan tidak seiring dengan apa yang saya jalankan. Namun ketika saya tempuh dan jalani, saat saya menoleh kembali ke belakang nampaknya apa yang kita jalani pada suatu waktu adalah apa yang tengah dipersiapkan Tuhan bagi kita untuk jalani di waktu berikutnya. Saya percaya itu. =)

All the way You lead us, let us be there. If it’s not Your way, let us be somewhere. -YoeL-

Monday, March 25, 2013

Sensasi Rumah Tahanan


Bermula dari kebutuhan perut dan tanpa direncanakan mau apa dan dimana. Menyusuri jalan, lihat ke kiri dan ke kanan. Tampak sebuah spanduk dengan tulisan menggunakan kosa kata bahasa khek bila saya tidak salah. Beberapa kata saya mengerti, beberapa tidak. Dengan modal merasa isi spanduk lucu ditambah bumbu penasaran, maka saya menyarankan teman makan di tempat itu saja.
Se kiak artinya bocah. Mo yong, tak guna. Mei kuan sih, tidak masalah. Mo li jiu, tidak masuk akal. Bo tahan, tidak tahan. Sao het, terbakar habis. Lihai, dahsyat. Sen cin ping, gila. Bo huat, tak berdaya. Auban, keras kepala. Amsyong, babak belur. ^__^

Sebelum melangkah masuk ada pintu seperti jeruji. Kemudian disambut pramusaji dengan seragam garis hitam putih bak narapidana. Ya, konsep restaurant ini penjara. Dinding dengan desain kota tua serta batu bata berwarna abu-abu dibubuhi beberapa tulisan layaknya penjara. “The happiest prisoner on earth,” salah satunya. Bisa jadi ini kutipan yang menjadi tagline restaurant ini. Memang saya akui pelayanan yang diberikan baik dan memuaskan. Bukan sembarang penjara! =)

Menu Bong Kopitown ini disajikan seperti dan terbuat dari bahan koran, dengan judul “Old Town Post.” Selain tampilan menu makanan dan minuman, ada juga kisah-kisah fiksi di dalamnya. Karena unik, proses memesan makanan pun agak lama. Tamu seolah digiring untuk memperhatikan isi menu. Dan akhirnya saya baru sadar bahwa ini adalah restaurant milik motivator muda ternama di Indonesia yaitu Bong Chandra.

Saat minuman diantarkan ke meja, saya cukup antusias. Mengapa? Bukan karena sedang dahaga, tetapi minuman yang saya pesan disajikan dalam gelas stainless yang digunakan orang-orang zaman dulu. Selain itu menu pesanan teman saya pun disajikan dalam piring stainless.

Teh dan asapnya
Deborah bersama nasi penjara

Grandma Chicken Pitan Porridge
Siomay

Seusai makan, tagihan kami pun diberikan dalam bill cover yang begitu sederhana. Terbuat dari semacam kertas karton. Harga menu restaurant ini terjangkau, berkisar antara ribuan hingga empat puluh ribuan. Namun untuk rasa, bagi saya standard sekali. Siomaynya kurang enak. Sayang sekali suasana dan pelayanan sudah mendukung, ditambah dengan perkakas makan yang unik namun rasanya kurang memuaskan. Alangkah baiknya apabila suasana, pelayanan dan rasa terpaket menjadi satu pengalaman yang sempurna.

-YoeL-

Monday, March 18, 2013

meNYEPI


Bagi pekerja kantoran, selain hari akhir pekan maka tanggal merah adalah SESUATU. Tak mau kehilangan kesempatan untuk menyegarkan jiwa dan raga dari kepenatan rutinitas, maka tanggal 12 Maret 2013 kami “merayakan” tanggal merah nyepi. Ide muncul dua hari sebelumnya. Teman dekat saya bernama Deborah yang kerap kali kami panggil dengan sebutan “Aboiiii” ingin berlibur ke Bogor. Di tengah perjalanan di sebuah mall seusai menonton film dengan alur cerita yang ga jelas (korban penipuan synopsis dan actor Brad Pitt, so ga selamanya aktor film oke = film bagus, camkan itu saudara-saudara! =D), saya teringat seorang teman yang berdomisili di Bogor. Tik ketak ketik chat di BBM, alhasil memperoleh satu nama tempat wisata yaitu “Curug Cilember”. Sepulangnya dari mall, kami langsung melakukan technical meeting, alias wawancara si embah Google.

Meski tanggal 11 Maret adalah Senin, hari kejepit dan tetep kudu masuk kerja, karena besoknya mau jalan-jalan, jadi agak sedikit bersemangat kerja deh..hehehee.. Pulang kerja coba nyari sandal gunung di mall Citraland tapi ga berhasil (derita kaki ukuran mini). Mau ga mau pake sepatu sport, nyari di rumah ga ketemu karena abis dipindah-pindahin bekas banjir beberapa bulan lalu. Senjata terakhir pinjem sama nona Aboi.

Selasa pagi, 03.30 saya sudah bangun. Siap-siap dan sarapan indomie goreng lalu berangkat ke rumah Irene, tempat kami berkumpul. Dari sana kami (Irene, Aboi, Acay, Edwin dan saya) naik taksi ke Stasiun Kota (DHI-Stasiun Kota = Rp 30.000, karena minimum payment by call, argonya sejatinya Rp 26.000). Cuk kucluk kucluk hampiri loket beli 5 tiket KA Commuter Line Rp 9.000/tiket. Jadwal keberangkatan seharusnya yaitu pukul 06.02 tapi kenyataannya kami berangkat pukul 07.26 karena kereta tujuan Bogor ga dateng2, yang dateng tujuan Depok terusss! Ditambah petugas yang salah informasi dan tidak sinkronnya petugas PAP dan security dalam KA sehingga membuat penumpang ragu-ragu antara naik atau turun. Grrr….! Sabar, sabar.. mau jalan-jalan ga boleh bĂȘte-bete. =D

Lamanya di kereta dari Jakarta Kota – Bogor sekitar 1 jam 15 menit. Kami tiba di Bogor hampir pukul 09.00. Rencananya mau naik dan oper angkot dua kali dilanjuti dengan ngojek, tapi karena si bapak angkot mau “menculik” kami dengan mencater angkotnya dan hasil tawar-menawar dengan Pak Ujip maka dengan harga Rp 105.000 kami diantar sampai depan pintu masuk Curug Cilember. Pak Ujip juga menawarkan untuk menjemput pulang nanti. Karena belum pasti maka kami belum mengiyakan dan hanya meminta nomor teleponnya saja.

Dari stasiun Bogor sampai Curug Cilember melahap waktu sekitar satu jam lebih. Karena tidak macet, sekitar pukul 10.30 kami sudah tiba. Perut pun sudah keroncongan minta diperhatikan. Di depan pintu masuk, ada beberapa kedai makanan. Jadi bagi yang mau ke Curug, bisa mencharge kalori dulu buat trekking. Nyam nyam nyam,, nasi + teri kacang + ikan tongkol + kentang balado = Rp 16.000 ^-^

Tiket masuk Rp 13.000/orang. Di dalam tersedia juga permainan flying fox, yang mau maen biayanya Rp. 20.000/orang. Tapi kita ga maen sihhh, cuma liatin anak kecil aja. Di sana juga ada Taman Nasional Kupu-Kupu, biayanya Rp 6.000/orang untuk WNI, dan Rp. “lupa” untuk WNA (kalo ga salah inget 20rb).

Dari pintu depan ke Curug 7 lamanya sekitar 15 menit. Jadi begini, di Curug Cilember itu ada yang namanya Curug 7 sampai Curug 1. Curug 7 yang terendah dan Curug 1 yang tertinggi. Semakin tinggi, medan trekkingnya juga semakin sulit. Di Curug 7 terlalu padat wisatawannya. Kami hanya main sebentar dan mengambil foto.
Curug 7
Dilanjutkan ke Curug 5, karena Curug 6 tidak bisa dilewati (hasil googling dan memang pas disana signage-nya mengarahkan wisatawan ke curug 5). Dari Curug 7 ke Curug 5 juga sekitar 15 menit. Disini tidak sepadat Curug 7, agak mendingan sedikit.
Curug 5
Nah dekat curug 5 ini ada warung. Yah nona Aboiii kelaperan lagi, dia makan pop mie dan sebagai teman yang baik gue temenin dia makan deh (boonk dehhh, padahal ngiler and laper mata aja sebenernya, hahahaaaa). Pop mie = Rp 7.000
Ini warungnya...
Perjalanan pun dilanjutkan ke Curug 4. Makin naik medannya makin susah, engos-engosannn booo! Dan semakin naik akhirnya bukan tiba di Curug 4 tapi di Curug 2. Capeknya bukan main, tapi semuanya itu terbayar lunas, tunai dan sah di tempat begitu ngeliat air terjunnya, ngerasain angin dan air. Dinginnya sampe tangan kami tampak seperti kulit ayam karena menggigil kedinginan. Karena udah susah payah sampe sana dan mau ngerasain fantasi di bawah air terjun langsung, saya bela-belain copotin softlen dan menuju ke bawah air terjun. Wowww.. disana kita ga bisa buka mata dan ngeliat ke depan, cuma bisa nunduk dan membiarkan debit air terjun menghantam tubuh kita, agak sakit sihhh, tapi seruuu bangetttttttt! ^____^
Curug 2

Selesai bermain agak lama disana (dibandingkan di Curug 7 dan 5 karena Curug 2 cenderung lebih sedikit wisatawannya dan lebih indah), kami turun kembali ke Curug 5. Perjalanan turun lebih sulit dan mengerikan daripada naik. Karena lahan yang curam dan licin, kalo ga hati-hati bisa terpeleset dan ngeguling ke bawah. Ini beneran kaga lebay. Karena ada satu cewe hampir aja jatuh dan untungnya ada temannya yang menopang cewe itu. Kalo ga mungkin dia udah jatuh kepalanya kena batu di bawah dan ngeguling ke bawah. Serem abis ngeliat adegan itu. Abis itu jadi lebih hati-hati lagi pas turun, menapaki tanah dengan benar dan pastiin kalo ga licin. Hampir sudah mau sampai, langit tampak gelap sekali. Dan gak lama kami tiba di pos warung dekat Curug 5, byarrrrrrrrr.. hujan turun. Banyak orang berteduh di warung itu dan pesen indomie sampe ngantri-ngantri. Saat itu hujan menjadi berkah pemasukan bagi pengelola warung, tapi menjadi kesulitan bagi wisatawan yang tengah turun dari Curug 2 ke 5. Bayangkan saja kalo ga hujan aja uda licin apalagi ditambah hujan. Bersyukur banget kita tiba sesaat sebelum hujan turun.

Sembari menunggu hujan reda, pesan indomie juga deh akhirnya. Dan o yeahhh, hari ini udah makan mie instan 3x dalam sehari. Gak mau makan mie lagi untuk jangka waktu 1-2 minggu ke depan. Di sana bertemu dengan temannya Edwin dan akhirnya kami ikut mobil temannya alias nebeng sampe stasiun Bogor. Cuk kucluk kucluk ke loket beli tiket dan lihat jadwal kereta.

Berhubung masih ada waktu, dipake untuk kuliner di Bogor. Kita naik angkot Rp. 2.000/orang ke rumah makan Soto Mie Bogor. Karena masih kenyang jadinya ga makan lagi, cuma teman-teman aja yang kuliner. Kembali ke stasiun bogor lagi naik angkot dan ini memakan waktu sekitar 2 jam karena macet  parah. Angkot dari yang ada penumpang lain sampe tinggal kita berlima, serasa angkot pribadi. Foto-foto pula sampe diliatin pengendara motor.. hahaha.. 
like a boss! ^^
Sampe di stasiun pas sekali dengan keberangkatan kereta ke Manggarai yaitu jam 8 malam. Jadinya kami naik meski tujuan kami adalah Jakarta Kota. Kalau harus menunggu lagi tujuan langsung Bogor-Jakarta Kota yang mana jam 9 malam, harus menunggu lagi satu jam. Transit di Manggarai dan menunggu kereta yang ke arah Kota, ga terlalu lama untungnya. Dari Kota naik taksi lagi ke DHI, rumah Irene.. dan abang taksinya ga mau pake argo melainkan borongan dan malah dikasih harga murah, ga biasanya. Kami di-charge Rp 20.000 saja.

Sesampainya di rumah Irene, saya berpikir betapa perjalanan kali ini disertai banget sama Tuhan.
Pertama, waktu turun ke Curug 5 gak kehujanan dan selamat meski susah dan licin.
liat tuh medannya x_x
Kedua, dari total pengeluaran yang relatif murah, bayangkan kami seorang hanya terkena Rp. 66.000/orang exclude makan. Perjalanan kami kali ini ada bendaharanya lho, yang dijabat oleh nona Aboi. Jadi kami mengeluarkan Rp 100.000/orang di awal yang uangnya akan dipakai untuk segala keperluan yang sifatnya bersama yaitu bayar taksi, tiket, angkutan. Hanya makan saja kami memakai uang pribadi sendiri.
Ketiga, bertemu jemaat gereja cabang yang bersedia nganterin kita sampe stasiun Bogor, kalau gak kita kudu cari cara gimana turun ke Bogor. Karena dari Curug Cilember ke bawah tempat bisa naik angkot atau kendaraan umum cukup jauh. Juga medan yang sulit ditempuh tapi kami tidak kekurangan suatu apa pun, selamat sehat sentosa sampai di Jakarta. Cuma lutut aja yang ngilu-ngilu. Sesampainya di rumah dan habis mandi langsung pake krim counterpain and it really really counter my pain away ^0^ besokannya lutut udah biasa-biasa aja dan badan juga ga capek sedikit pun. Ajaib dan heran, tapi bersyukur banget banget banget.

We are young!!! ^o^
Last, but not least.. 
Good trip with good friends through His blessing along the way. 
Thanks, Lord! =)

-YoeL-

Saturday, February 9, 2013

Death Do Us Apart

Kamis pagi, tante saya meninggalkan dunia ini. Saya memang tidak memiliki relasi yang dekat sekali dengannya, namun rasa berduka itu pasti ada. Saya menanyakan orang rumah bagaimana reaksi nenek yaitu ibu dari tante saya ketika mendengar berita tsb. Nenek duduk lemas di kursinya dan langsung menangis keras layaknya seorang anak kecil, bahkan sebelum ia mendengar kalimat berita kematian anaknya. Namun ia tahu, bahwa kedatangan kedua anaknya di pagi hari yang tidak biasanya adalah menandakan firasat buruk.
Selain itu rasa berduka timbul ketika membayangkan apa yang dirasakan oleh anak-anak dari tante. Saya pernah terlebih dahulu mengalami apa yang baru saja mereka lalui. Saya tahu persis bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Memang yang sedikit berbeda adalah kalau saya kehilangan ayah, sepupu saya kehilangan ibu. Kehilangan itu menyakitkan. Terlebih lagi bila itu orang yang terdekat dan kita kasihi.

Anyway, all of us will face the death.  Life is uncertain, but death is certain. Dan hal ini yang sering menghantui saya, bukan saja ketika mendengar berita kematian. Namun di hari-hari yang biasa, ketika sedang ngobrol atau jalan-jalan dengan teman bahkan menatap orang yang tak saya kenal di angkutan umum sekalipun... terbesit dalam pikiranku bahwa orang yang ada di hadapanku saat ini akan mati suatu hari nanti. Suatu pikiran yang mengerikan bagi saya. Bagaimana bila itu terjadi pada keluarga terdekat, sahabat dan rekan dekat? Pasti akan ada saatnya, entah kapan.  Saya takut. Kehilangan demi kehilangan... lagi-lagi, mau tidak mau, suka tidak suka harus ditelan dan berakhir sesak di dada.

Saya pun akan mati. Namun jarang terbesit pikiran tentang apa yang akan orang lain rasakan ketika mendengar kabar kematian saya. Yang saya tahu ketika hidup saya berusaha menoreh kisah dalam hidup mereka. Lupa itu manusiawi, tapi apa yang berkesan tak mudah dilupakan. Ia akan tertoreh dengan sendirinya dalam kanvas hati seseorang. Tak akan lekang oleh waktu sekalipun. Ia tetap hadir, meski fisik ini sudah tiada.

Dan saat ini pukul 11 siang, tante dalam proses dikebumikan. Selamat jalan, Tante...

Death will come, for me and you. It doesn't matter, as long as you are in my heart and I am in your heart. It's enough. Death only separate our body, not our soul. -YoeL-

Monday, January 28, 2013

Sarapan Pagi: Amplop

Academic Quality And Special Project. Isinya adalah penilaian mahasiswa tentang dosen mengenai mata kuliah yang diajarkan. Tentunya dalam hal ini saya bukan berperan sebagai dosen, tetapi asisten dosen yang membantu mahasiswa/i dalam kelas praktek. 

Penilaiannya ada dalam bentuk angka maupun pernyataan terbuka dimana mahasiswa dapat memberikan komentar apapun mengenai kelebihan dan kekurangan si pengajar. Yang disajikan dalam bentuk angka saya tidak tahu artinya apa karena belum pernah mendengar penjelasan range nilai tersebut. Tidak terlalu tertarik juga untuk melihat hasilnya. Namun yang menjadi hasrat saya untuk membaca isi amplop tsb yaitu bagian komentar mahasiswa dalam kata-kata.

Seusai membaca, saya hanya bisa tersenyum. Tidak ada rasa GR untuk komentar positif atau amarah sedikit pun terhadap komentar negatif. Hanya terbesit kalimat seseorang yang pernah berkata, "Menjadi leader bukan ingin dibenci, tapi harus siap dibenci." 

Terima kasih atas komentar positif dan negatifnya, mahasiswa-mahasiswiku. Yang positif akan saya coba pertahankan di semester ini, yang negatif menjadi bahan untuk saya berkaca (ternyata ngaca ngga melulu lewat kaca lhooo :D). 
It's not mirror mirror hanging on the wall, but mirror mirror hanging on the paper ^__^