Masih terbesit jelas saya naik ke sebuah tempat. Biasanya kata naik diasosiasikan dengan sesuatu yang mengarah ke atas. Tapi tidak kali itu. Saya memandang ke bawah. Indah, biru bercampur putih dan bening transparan. Terang.
Karena terlampau indahnya, saya hanya memandang sekejap dan membalikkan badan segera. Terbaring sembari memejamkan mata. Tak lama datanglah seseorang yang memberikan kedua tangannya, berusaha mengajak saya bangun dan menyakinkan untuk membuka mata dan lanjut menikmati keindahan yang ada.
Saya bangun dan menjalankan keseharian, ia masih terasa jelas sekali bahkan ketika menuliskan ini dimana waktu sudah menunjukkan saya akan kembali terlelap lagi.
Satu pertanyaan yang cukup mengganggu benak. Bila ia demikian indahnya, mengapa saya tidak berani menatap lebih lama dan langsung buang muka serta menutup mata? Bukankah rasa takjub itu pada umumnya membuat kita ingin terus memandang? Mungkin ini yang dimaksud dengan "emosi yang tak dapat dijelaskan". Mungkin juga karena ia begitu indah dan saya terlalu takut bahwa hal indah ini pun akan berlalu, sehingga lebih baik ia cukup singgah sekian detik saja dalam memori.
Peristiwa takjub ini memang hanya dalam mimpi, bukan sesuatu yang saya temui dalam aktivitas sadar sepenuhnya dalam hidup. Namun mimpi pun adalah bagian dalam hidup. Sekarang saatnya melanjutkan bagian dalam hidup tersebut.
Saya tahu ini sudah tengah malam. Tapi percayalah, jemari ini tidak terpeleset satu tuts ke kiri saat menetapkan judul.
Mayoritas orang akan merenung dan meninjau ulang kembali tahun yang telah berlalu di akhir tahun atau menjelang tahun baru. Resolusi demi resolusi dipaparkan. Tapi saya tidak terbiasa membuat resolusi tahunan. Bukan karena tidak berharap tahun sekarang lebih baik dari tahun lalu, hanya saja sekarang ini lebih menjalani hidup hari lepas hari. Awal tahun, saya ditanyai oleh atasan, "Apa resolusi kamu di tahun baru?" Jawab saya, "gak ada pak, saya gak biasa buat-buat resolusi." Aneh? Mungkin.
Saya berharap hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Kalaupun tidak lebih baik, setidaknya tidak lebih buruk.
2014, tahun yang luar biasa bagi saya. Permisi menuangkan kisah tentang dia. 1. Tante. Namanya Princessa Jessie Wijaya. Ya, dia bagaikan putri di hati kami sekeluarga. Saya resmi menjadi seorang tante bagi keponakan saya yang begitu lucu, imut dan menggemaskan. Satu minggu setelah ia lahir, harus mengungsi karena banjir. Sekiranya ini tanda bahwa sejak bayi saja dia sudah diuji untuk menjadi kuat dan harapanku ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
2. Mujizat. Bagian ini tak banyak yang bisa saya bagikan disini. Saya bertumbuh dalam gereja yang kuat mengajarkan doktrin dan seolah membawa saya tidak yakin bahwa mujizat itu masih ada di zaman ini. Tapi sejak malam itu, saya percaya mujizat itu nyata. Sedu sedan menghantarkan rasa lega dan damai. Thank You Jesus. 3. Pindah. Dua kali sudah saya punya niat untuk undur diri dari pekerjaan. Yang kedua kalinya, niat saya sudah bulat. Bahkan saya berdoa meminta Dia untuk memenuhi mauku. Saya memaksa menjadi Tuhan atas diri sendiri. Tapi dasar memang yang namanya Tuhan, Dia tetaplah Tuhan atas hidupku. Yang ada saya tidak jadi undur diri, tetapi pindah bagian. Yang ada saya bukan lagi ingin meninggalkan tempat kerja, tetapi saya semakin mencintainya. Pindah berarti suasana baru dan adaptasi lagi. Usaha dan risiko berjalan di waktu yang bersamaan. Hasilnya seperti apa, tidak tahu. Diperlukan keberanian untuk itu. 4. Perjalanan. Setiap perjalanan punya kisah untuk dikenang dan diceritakan. Setiap perjalanan punya hikmah sebagai pembelajaran. Mengenal diri dan sekeliling lebih dalam lagi. Perjalanan yang bukan saja membawa diri pada suatu destinasi, tetapi lebih pada suatu pendewasaan. Oleh karenanya, tak ada yang perlu disesali. Camkan saja hikmahnya.
-YoeL, yang masih melek karena sebotol Kopiko di siang hari demi terjaga kala bekerja dan kini masih terjaga di kala yang lain terlelap-
Belakangan ini seusai pulang kerja
di subuh hari, saya lagi suka menonton film sebagai suatu penyegaran. Ada
beberapa film bagus yang sudah saya tonton dan mengajarkan sesuatu. Salah
satunya berjudul Grace Unplugged. Sebuah film yang mengisahkan seorang putri
bernama Grace, bertalenta dalam bidang musik dan sejak kecil bersama ayahnya
melayani Tuhan dalam bidang puji-pujian di gereja. Namun seiring ia beranjak
dewasa, ia mengidolakan seorang artis yang memengaruhi pemikirannya sehingga
ingin menjadi artis. Alhasil ini membuat dia dan ayahnya sering berbeda
pendapat dan adu mulut, sampai-sampai ia pergi meninggalkan rumah.
Hmm.. berselisih
dengan salah satu anggota keluarga bukanlah hal yang menyenangkan. Saya pun
pernah mengalami beberapa kali. Kalau saat kecil, perselisihan terjadi dalam
bentuk perkelahian jasmani, misalnya saling memukul, atau dicakar (dulu saya
sering dicakar kakak saat kecil, *curcol.com
hahahaa). Tapi beranjak dewasa, biasanya perselisihan itu dalam bentuk
perkataan yang bisa menyakitkan hati. Satu waktu ketika kuliah, saya pernah
sangat marah pada ibu. Saya berangkat kuliah dengan kondisi mata berkaca-kaca
dan berusaha menahan diri agar tidak menangis. Sesampainya di kelas pun saya
sulit berkonsentrasi, selain karena masalah tersebut, juga sedang pusing
mengurus sebuah acara yang mana dipercayakan sebagai koordinator konsumsi.
Hingga tiba saat minggu ujian, hal tersebut memengaruhi hasil akhir ujian.
Nilai merah, yap.. saya mendapatkan nilai jelek. Dosen mata kuliah tsb pun
sempat kecewa dan terkejut. Sedih dan kecewa pada diri sendiri. Saya gagal
mendapatkan nilai lebih baik. Saya tidak menyalahkan keadaan, mungkin memang
masalah yang terjadi memengaruhi konsentrasi saya, tetapi hal itu tidaklah
semestinya menjadi alasan. Apapun yang terjadi di luar diri kita memang berada
di luar kontrol dan kendali kita, tapi diri kita sendirilah yang harus
mengontrol apa yang terjadi atas diri kita.
Di tengah perjalanan
Grace menentang orang tua dan Tuhan, ia diingatkan oleh seorang pria dan
dibimbing kembali ke jalan yang benar. Ya, kita butuh teman yang dapat
mengingatkan ketika kita lengah, goyah, dingin, jauh atau pun suam-suam kuku
dari Dia. Pertanyaannya, sudahkah saya menjadi teman yang seperti itu? Punyakah
saya teman yang demikian? Harapan saya kita semua bisa menjadi teman dan punya
teman yang demikian.
Tatkala Grace
berusaha keras menulis lagu untuk albumnya sebagai artis, dia tidak berhasil.
Namun ketika ia kembali pada keluarganya dan Tuhan, ia menuliskan dan memainkan
sebuah lagu yang indah. Saya menyukai isi lirik maupun melodi dari lagu
tersebut.
Menjelang tidur saya
merenungkan pelajaran dari film ini. Adalah sesuatu yang umum, anak muda
di usia beranjak dewasa mengejar akan kesuksesan. Sering kali yang menjadi
penilaian sukses adalah menjadi tenar atau kaya. Dari yang dahulunya bukan
siapa-siapa menjadi Si “Apa”, si artis; si penyanyi; si jutawan, si komedian,
dsb. Dari yang dahulunya tidak punya apa-apa menjadi punya “Apa”, rumah, mobil,
perhiasan, properti, saham, dsb. Tapi apa itu sukses? Benarkah dengan menjadi
tenar dan kaya adalah parameter bahwa kita sudah mencapai yang namanya sukses?
Bagi saya, kedua itu tidaklah salah. Memang bisa jadi kedua itu menjadi ukuran
seseorang menjadi sukses. Apabila menjadi tenar dan kaya membawa kita menjadi
pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya, apa salahnya? Tapi kedua itu
menjadi tidak benar apabila hidup kita hanya difokuskan mengejar kedua itu, padahal
itu bukan jalan yang Tuhan ingin kita tempuh.
Beberapa kali apa
yang saya inginkan dan rencanakan tidak seiring dengan apa yang saya jalankan.
Namun ketika saya tempuh dan jalani, saat saya menoleh kembali ke belakang
nampaknya apa yang kita jalani pada suatu waktu adalah apa yang tengah
dipersiapkan Tuhan bagi kita untuk jalani di waktu berikutnya. Saya percaya
itu. =)
All the way You lead us, let us be there. If it’s not Your way, let us be somewhere. -YoeL-
Bermula dari kebutuhan perut dan
tanpa direncanakan mau apa dan dimana. Menyusuri jalan, lihat ke kiri dan ke
kanan. Tampak sebuah spanduk dengan tulisan menggunakan kosa kata bahasa khek
bila saya tidak salah. Beberapa kata saya mengerti, beberapa tidak. Dengan
modal merasa isi spanduk lucu ditambah bumbu penasaran, maka saya menyarankan
teman makan di tempat itu saja.
Se kiak artinya bocah. Mo yong, tak guna. Mei kuan sih, tidak masalah. Mo li jiu, tidak masuk akal. Bo tahan, tidak tahan. Sao het, terbakar habis. Lihai, dahsyat. Sen cin ping, gila. Bo huat, tak berdaya. Auban, keras kepala. Amsyong, babak belur. ^__^
Sebelum melangkah masuk ada pintu
seperti jeruji. Kemudian disambut pramusaji dengan seragam garis hitam putih
bak narapidana. Ya, konsep restaurant ini penjara. Dinding dengan desain kota
tua serta batu bata berwarna abu-abu dibubuhi beberapa tulisan layaknya
penjara. “The happiest prisoner on earth,” salah satunya. Bisa jadi ini kutipan
yang menjadi tagline restaurant ini.
Memang saya akui pelayanan yang diberikan baik dan memuaskan. Bukan sembarang
penjara! =)
Menu Bong Kopitown ini disajikan
seperti dan terbuat dari bahan koran, dengan judul “Old Town Post.” Selain
tampilan menu makanan dan minuman, ada juga kisah-kisah fiksi di dalamnya.
Karena unik, proses memesan makanan pun agak lama. Tamu seolah digiring untuk
memperhatikan isi menu. Dan akhirnya saya baru sadar bahwa ini adalah
restaurant milik motivator muda ternama di Indonesia yaitu Bong Chandra.
Saat minuman diantarkan ke meja,
saya cukup antusias. Mengapa? Bukan karena sedang dahaga, tetapi minuman
yang saya pesan disajikan dalam gelas stainless yang digunakan orang-orang
zaman dulu. Selain itu menu pesanan teman saya pun disajikan dalam piring
stainless.
Teh dan asapnya
Deborah bersama nasi penjara
Grandma Chicken Pitan Porridge
Siomay
Seusai makan, tagihan kami pun
diberikan dalam bill cover yang
begitu sederhana. Terbuat dari semacam kertas karton. Harga menu restaurant ini
terjangkau, berkisar antara ribuan hingga empat puluh ribuan. Namun untuk rasa,
bagi saya standard sekali. Siomaynya kurang enak. Sayang sekali suasana dan
pelayanan sudah mendukung, ditambah dengan perkakas makan yang unik
namun rasanya kurang memuaskan. Alangkah baiknya apabila suasana, pelayanan dan
rasa terpaket menjadi satu pengalaman yang sempurna.
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." -Yoh 3:16-
"Sebab TUHAN, Allahmu lah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap; yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian." -Ul 10:17-19-
"Tetaplah berdoa." -1 Tes 5:17-
"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." -Yes 55:8-9-
Favorite Quotations
"There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus." -Blaise Pascal-
"Beri aku ketenangan untuk menerima hal yang tidak bisa kuubah. Beri aku kekuatan untuk mengubah hal yang harus kuubah. Beri aku kebijaksanaan untuk membedakan mana yang bisa kuubah dan mana yang tidak bisa kuubah." -Reinhold Niebuhr-
"Don't think it can't happen, because it can." "Impossible is possible." -Paulo Coelho-
"Life...is full of surprises" -The Elephant Man-
"We are women. Our choices are never easy." -Titanic-
"Rela paksa diri dan paksa diri untuk rela." -Pdt. Ivan Kristiono-