Enjoy

Enjoy

Welcome to YoeL's Blog

Thank you for visiting my blog. Hopefully my writing will be a blessing for you. ^^

Saturday, July 2, 2016

Pilihan

Beberapa hari lalu, rekan tempat saya dulu bekerja menyapa lewat whatsapp. Dia adalah admin di fakultas dulu saya kuliah dan bekerja. Nampaknya dia sedang ditugaskan mencari asisten dosen untuk kelas praktek Food & Beverage Service.
Beberapa hari setelahnya, saya menceritakan perihal tsb kepada satu teman lagi yang juga bekerja satu tempat dengan orang di awal cerita tadi. Ternyata teman saya inilah yang memberi ide kepadanya untuk tanya ke saya. 

Cukup menantang sebenarnya tawaran untuk kembali ke dunia pendidikan lagi. Senang mengenal banyak mahasiswa dan melihat mereka menjalani apa yang dulu pernah saya lewati, terlebih berbagi apa yang pernah saya pelajari lebih dulu. Mengajar bukanlah soal memberi ilmu, tetapi perkara berbagi. Membagi pengetahuan, membagi pengalaman.

Siang ini telepon genggam saya berbunyi. (Biasanya saya enggan mengangkat telepon bila dari nomor perbankan yang menawarkan ini dan itu. Kasian sih sebenarnya, karena itu bagian dari pekerjaannya. Maaf ya, hanya saja terkadang cukup mengganggu dihubungi berkali-kali. Saya tipikal yang lebih senang ditawari sesuatu melalui bentuk tulisan. Selain lebih jelas infonya, bisa dibaca kapan pun dan dibuka kembali. Sedangkan bila via telepon, entah apa suasana hati dan isi pikiran si narasumber, belum tentu efektif info yang diberikan setelah menjelaskan panjang lebar. Anyway saya sadar itu bagian dari pekerjaan seseorang di perbankan yang sedang berusaha. Terkadang saya angkat, terkadang saya diamkan bila sedang tidak mood menjawab.)
One of inspired man I ever know in my life called me after some months we lose contact. We talked each others' update of some aspects in our life. But the aim he called me was to offering me a job. Actually he recommended me to his acquaintance who desperate to find an employee with a certain requirement. I feel so touched that he remember of me. Thank you for keep being an inspiring person, though I have left your company.

So, here I am when reflecting to both offering, I feel so blessed to be counted by others. Not because of the offering, but the person behind. They remember me. Though distance separate us, but our heart still connected as friend.
Sorry kalo tulisannya jadi campur antara bahasa indo n english. Bukan mau sok2 keren pake english, tapi ngalir gitu aja pas ngetik. Ini lagi ga pengen banyak mikir n edit tulisan, lagi pengen menuangkan aja.

YoeL

Wednesday, April 20, 2016

Indah

Jawabku semalam.

Masih terbesit jelas saya naik ke sebuah tempat. Biasanya kata naik diasosiasikan dengan sesuatu yang mengarah ke atas. Tapi tidak kali itu. Saya memandang ke bawah. Indah, biru bercampur putih dan bening transparan. Terang.

Karena terlampau indahnya, saya hanya memandang sekejap dan membalikkan badan segera. Terbaring sembari memejamkan mata. Tak lama datanglah seseorang yang memberikan kedua tangannya, berusaha mengajak saya bangun dan menyakinkan untuk membuka mata dan lanjut menikmati keindahan yang ada.

Saya bangun dan menjalankan keseharian, ia masih terasa jelas sekali bahkan ketika menuliskan ini dimana waktu sudah menunjukkan saya akan kembali terlelap lagi.

Satu pertanyaan yang cukup mengganggu benak. Bila ia demikian indahnya, mengapa saya tidak berani menatap lebih lama dan langsung buang muka serta menutup mata? Bukankah rasa takjub itu pada umumnya membuat kita ingin terus memandang? Mungkin ini yang dimaksud dengan "emosi yang tak dapat dijelaskan". Mungkin juga karena ia begitu indah dan saya terlalu takut bahwa hal indah ini pun akan berlalu, sehingga lebih baik ia cukup singgah sekian detik saja dalam memori.

Peristiwa takjub ini memang hanya dalam mimpi, bukan sesuatu yang saya temui dalam aktivitas sadar sepenuhnya dalam hidup. Namun mimpi pun adalah bagian dalam hidup. Sekarang saatnya melanjutkan bagian dalam hidup tersebut.

Selamat malam, selamat bermimpi.
Selamat bertakjub ria.

-YoeL-

Saturday, July 25, 2015

Today


"So - whatever happened to you?"
"Life. Life happened.”

 "Whatever happens tomorrow, we've had today."


- Live each day as if it was your last and love like there's no tomorrow -

Monday, June 29, 2015

Stuck


~Feeling frightened of the things that I don't know~

Keep strong...
Keep walking...
Keep calm...

Be still your soul, dear.

"Those things that hurt, instruct." -BF-

Tuesday, April 7, 2015

2014

12:57 AM 
Saya tahu ini sudah tengah malam. Tapi percayalah, jemari ini tidak terpeleset satu tuts ke kiri saat menetapkan judul.

Mayoritas orang akan merenung dan meninjau ulang kembali tahun yang telah berlalu di akhir tahun atau menjelang tahun baru. Resolusi demi resolusi dipaparkan. Tapi saya tidak terbiasa membuat resolusi tahunan. Bukan karena tidak berharap tahun sekarang lebih baik dari tahun lalu, hanya saja sekarang ini lebih menjalani hidup hari lepas hari. Awal tahun, saya ditanyai oleh atasan, "Apa resolusi kamu di tahun baru?" Jawab saya, "gak ada pak, saya gak biasa buat-buat resolusi."
Aneh? Mungkin.

Saya berharap hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Kalaupun tidak lebih baik, setidaknya tidak lebih buruk.

2014, tahun yang luar biasa bagi saya. Permisi menuangkan kisah tentang dia.
1. Tante. Namanya Princessa Jessie Wijaya. Ya, dia bagaikan putri di hati kami sekeluarga. Saya resmi menjadi seorang tante bagi keponakan saya yang begitu lucu, imut dan menggemaskan. Satu minggu setelah ia lahir, harus mengungsi karena banjir. Sekiranya ini tanda bahwa sejak bayi saja dia sudah diuji untuk menjadi kuat dan harapanku ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat. 
2. Mujizat. Bagian ini tak banyak yang bisa saya bagikan disini. Saya bertumbuh dalam gereja yang kuat mengajarkan doktrin dan seolah membawa saya tidak yakin bahwa mujizat itu masih ada di zaman ini. Tapi sejak malam itu, saya percaya mujizat itu nyata. Sedu sedan menghantarkan rasa lega dan damai. Thank You Jesus.
3. Pindah. Dua kali sudah saya punya niat untuk undur diri dari pekerjaan. Yang kedua kalinya, niat saya sudah bulat. Bahkan saya berdoa meminta Dia untuk memenuhi mauku. Saya memaksa menjadi Tuhan atas diri sendiri. Tapi dasar memang yang namanya Tuhan, Dia tetaplah Tuhan atas hidupku. Yang ada saya tidak jadi undur diri, tetapi pindah bagian. Yang ada saya bukan lagi ingin meninggalkan tempat kerja, tetapi saya semakin mencintainya. Pindah berarti suasana baru dan adaptasi lagi. Usaha dan risiko berjalan di waktu yang bersamaan. Hasilnya seperti apa, tidak tahu. Diperlukan keberanian untuk itu.
4. Perjalanan. Setiap perjalanan punya kisah untuk dikenang dan diceritakan. Setiap perjalanan punya hikmah sebagai pembelajaran. Mengenal diri dan sekeliling lebih dalam lagi. Perjalanan yang bukan saja membawa diri pada suatu destinasi, tetapi lebih pada suatu pendewasaan. Oleh karenanya, tak ada yang perlu disesali. Camkan saja hikmahnya.

-YoeL, yang masih melek karena sebotol Kopiko di siang hari demi terjaga kala bekerja dan kini masih terjaga di kala yang lain terlelap-

Thursday, December 25, 2014

You're Not You

One moment can change everything
One person can give us hope
Let go of who you were and discover
Who you're meant to be
Dear my child, Yuli...
Give peace in your heart and love your neighbor as yourself, but you should love yourself

~ His love is so wonderful, His mercy so bountiful
I can't understand it I confess ~

Monday, May 19, 2014

Grace Unplugged


Belakangan ini seusai pulang kerja di subuh hari, saya lagi suka menonton film sebagai suatu penyegaran. Ada beberapa film bagus yang sudah saya tonton dan mengajarkan sesuatu. Salah satunya berjudul Grace Unplugged. Sebuah film yang mengisahkan seorang putri bernama Grace, bertalenta dalam bidang musik dan sejak kecil bersama ayahnya melayani Tuhan dalam bidang puji-pujian di gereja. Namun seiring ia beranjak dewasa, ia mengidolakan seorang artis yang memengaruhi pemikirannya sehingga ingin menjadi artis. Alhasil ini membuat dia dan ayahnya sering berbeda pendapat dan adu mulut, sampai-sampai ia pergi meninggalkan rumah. 

Hmm.. berselisih dengan salah satu anggota keluarga bukanlah hal yang menyenangkan. Saya pun pernah mengalami beberapa kali. Kalau saat kecil, perselisihan terjadi dalam bentuk perkelahian jasmani, misalnya saling memukul, atau dicakar (dulu saya sering dicakar kakak saat kecil, *curcol.com hahahaa). Tapi beranjak dewasa, biasanya perselisihan itu dalam bentuk perkataan yang bisa menyakitkan hati. Satu waktu ketika kuliah, saya pernah sangat marah pada ibu. Saya berangkat kuliah dengan kondisi mata berkaca-kaca dan berusaha menahan diri agar tidak menangis. Sesampainya di kelas pun saya sulit berkonsentrasi, selain karena masalah tersebut, juga sedang pusing mengurus sebuah acara yang mana dipercayakan sebagai koordinator konsumsi. Hingga tiba saat minggu ujian, hal tersebut memengaruhi hasil akhir ujian. Nilai merah, yap.. saya mendapatkan nilai jelek. Dosen mata kuliah tsb pun sempat kecewa dan terkejut. Sedih dan kecewa pada diri sendiri. Saya gagal mendapatkan nilai lebih baik. Saya tidak menyalahkan keadaan, mungkin memang masalah yang terjadi memengaruhi konsentrasi saya, tetapi hal itu tidaklah semestinya menjadi alasan. Apapun yang terjadi di luar diri kita memang berada di luar kontrol dan kendali kita, tapi diri kita sendirilah yang harus mengontrol apa yang terjadi atas diri kita. 

Di tengah perjalanan Grace menentang orang tua dan Tuhan, ia diingatkan oleh seorang pria dan dibimbing kembali ke jalan yang benar. Ya, kita butuh teman yang dapat mengingatkan ketika kita lengah, goyah, dingin, jauh atau pun suam-suam kuku dari Dia. Pertanyaannya, sudahkah saya menjadi teman yang seperti itu? Punyakah saya teman yang demikian? Harapan saya kita semua bisa menjadi teman dan punya teman yang demikian.

Tatkala Grace berusaha keras menulis lagu untuk albumnya sebagai artis, dia tidak berhasil. Namun ketika ia kembali pada keluarganya dan Tuhan, ia menuliskan dan memainkan sebuah lagu yang indah. Saya menyukai isi lirik maupun melodi dari lagu tersebut. 

Menjelang tidur saya merenungkan pelajaran dari film ini. Adalah sesuatu yang umum,  anak muda di usia beranjak dewasa mengejar akan kesuksesan. Sering kali yang menjadi penilaian sukses adalah menjadi tenar atau kaya. Dari yang dahulunya bukan siapa-siapa menjadi Si “Apa”, si artis; si penyanyi; si jutawan, si komedian, dsb. Dari yang dahulunya tidak punya apa-apa menjadi punya “Apa”, rumah, mobil, perhiasan, properti, saham, dsb. Tapi apa itu sukses? Benarkah dengan menjadi tenar dan kaya adalah parameter bahwa kita sudah mencapai yang namanya sukses? Bagi saya, kedua itu tidaklah salah. Memang bisa jadi kedua itu menjadi ukuran seseorang menjadi sukses. Apabila menjadi tenar dan kaya membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya, apa salahnya? Tapi kedua itu menjadi tidak benar apabila hidup kita hanya difokuskan mengejar kedua itu, padahal itu bukan jalan yang Tuhan ingin kita tempuh. 

Beberapa kali apa yang saya inginkan dan rencanakan tidak seiring dengan apa yang saya jalankan. Namun ketika saya tempuh dan jalani, saat saya menoleh kembali ke belakang nampaknya apa yang kita jalani pada suatu waktu adalah apa yang tengah dipersiapkan Tuhan bagi kita untuk jalani di waktu berikutnya. Saya percaya itu. =)

All the way You lead us, let us be there. If it’s not Your way, let us be somewhere. -YoeL-