Enjoy

Enjoy

Welcome to YoeL's Blog

Thank you for visiting my blog. Hopefully my writing will be a blessing for you. ^^

Sunday, May 8, 2011

Solace

(In the midst of my sorrow)

XXX doakan kamu ya. kita berdoa malam ini ya,

Betul sekali Yuli, kita dalam hidup ini memang mengalami banyak tantangan, masalah, dalam hal apapun.

..., dan walau berat tapi Tuhan menghibur. XXX doakan supaya Yuli berserah dan bersandar penuh pada tangan Tuhan yg SETIA.

(Paulus bilang spt ini: "..Dia bukanlah Gembala Agung yg tak pernah merasakan penderitaan kita, Dia telah merasakan dan menanggung segala derita selama di dunia, Dia tahu penderitaan kita dan menurut XXX Tuhan tahu persis apa yang Yuli rasakan saat ini).

XXX harap Yuli tegar, dan berani MELANGKAH dan BANGKIT ya..,

XXX doakan pastinya.

Tuhan menyertaimu Yuli, ingat itu..
Di kala berat yg Yuli rasakan, dan kuatir.., jangan lupa Getsemani dimana TUhan pernah 'bergumul' sangat gentar dan berat. DIa yg sama juga akan memberi Kekuatan serta Penghiburan yg SEJATI pada Yuli.

XXX yakin itu.

Makasih Yuli dukungannya selama ini. sangat berarti buat XXX.

kamu HARUS semangat ya!

Thanks...

Saturday, March 12, 2011

Story of My Journey

Dua hari ini saya bersama dengan dosen saya yaitu Pak Budi dan ditemani kedua teman dekat saya yaitu Alfin dan William mengunjungi Pulau Seribu untuk keperluan survey proyek karya akhir studi saya (SKB/Studi Kelayakan Bisnis). Sebelumnya saya perkenalkan terlebih dahulu. Pak Budi adalah dosen yang saya kagumi oleh karena kepeduliannya terhadap lingkungan. Beliau merupakan orang yang membuat saya melek akan betapa pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Beliau memiliki hati yang penolong, tidak egois dan hidupnya bukan untuk memperkaya dirinya sendiri melainkan untuk memperkaya hidup orang lain dan inilah arti kaya yang sesungguhnya. Saya angkat topi untuk hati seorang Pak Budi. Bersyukur saya mengenalnya, pernah diajar olehnya satu semester dan kini Beliau bersedia membimbing proyek akhir saya atas permintaan saya secara pribadi kepadanya. Nah, mengenai A&W alias Alfin dan William, mereka berdua adalah dua orang teman yang care dengan saya sekaligus dua orang teman yang paling sering membuli-buli saya. :)
*Tuhan, ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yang mereka perbuat :D

Tulisan ini akan tampak tidak nyambung antar paragrafnya, karena saya hanya ingin berbagi cerita yang berkesan di hatiku.
And here is the story, enjoy.. :)

Di sana kegiatan utama saya yaitu melakukan brainstorming dengan Pak Budi dan mewawancarai Pak Untung selaku pengelola villa Delima di Pulau Pramuka. Selain itu kami mengunjungi Pulau Air, Pulau Semak Daun, tambak ikan, makan bersama di Nusa Resto (sambil menonton berita gempa tsunami di Jepang), dan sisanya kami habiskan dengan berbincang-bincang, dari membicarakan hal yang serius sampai guyonan.

Sesaat sebelum brainstorming, Pak Budi mengambil foto orang-orang yang kerja di pelabuhan pada siang hari. Lalu ia menunjukkannya pada saya dan mengatakan bahwa ia sangat menyukai foto yang demikian. Katanya foto tersebut memprotetkan manusia yang melakukan kerja yang sesungguhnya. Mengapa? Karena mereka murni bekerja benar-benar demi bisa makan dan bertahan hidup. Kagum. Terharu. Itu yang saya rasakan ketika melihat foto tsb dan mendengarkan penjelasan Pak Budi.
Kemudian di tengah pembicaraan tentang ekowisata, saya bertanya sambil tersenyum =) , "Pak, Bapak koq bisa optimis sih kalo apa yang Bapak lakukan itu akan berdampak, meski hasilnya itu ga akan terlihat langsung dan sebenarnya butuh dikerjakan secara massal, memang sih ada semboyan yang bilang 'kalo bukan kita, siapa lagi'?" Sebelum saya menyelesaikan pertanyaan tersebut, Beliau sudah menjawab terlebih dahulu, katanya "Optimis!" Saya sangat salut dengan dosen saya yang satu ini. Terlalu panjang untuk diceritakan hal-hal dari dirinya yang membuat saya kagum pada Beliau. :)

Jam menunjukkan pukul 01.00 pagi. Kruyuk kruyuk. Perut teman saya lapar. Kami pun pergi mencari tempat apapun yang masih menjual makanan. Tibalah kami di sebuah warung dan A&W pun makan indomie goreng. *mau di rumah, mau ke luar kota, mau ke luar negri, mau ke pulau, selalu indomie menjadi sahabat di kala luafaaarr.. dan apapun makanannya minumnya teh botol sosro yhaa... :p (jasjus dehhh... :D) Ketika hendak kembali ke penginapan, kami melihat ada yang memancing dan mendapatkan cumi. Kami pun berhenti sejenak. Saat itu saya menatap ke langit. Bulan sabit. Bintang-bintang. Oh, indahnya... Senang rasanya melihat bintang. Jarang-jarang saya bisa melihat bintang di kota Jakarta.
~Bila ku lihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh ku dengar, ya Tuhanku tak putus aku heran, melihat ciptaan-Mu yang besar, maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allah-ku, maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allah-ku~

Di suatu pagi yang sejuk, di bawah pepohonan yang rindang, kami sarapan dan berbincang-bincang. Saya mencatat beberapa hal dari perkataannya di MemoPad telepon genggam saya karena takut lupa. Ketika membicarakan tentang petani di pedalaman yang makan dari alam dan penghasilan sebulan hanya 80 ribu rupiah dan masalah kemiskinan yang terjadi, tiba-tiba Pak Budi mengeluarkan sebuah peribahasa, "Dimana ada ketidaksuburan, di sana ada kesuburan." Saya kurang mengerti dan Beliau menjelaskan, katanya di tanah yang kering sekalipun, di dalamnya terdapat mineral. Beliau memberi contoh bahwa di daerah Banten Selatan dari Halimun, gunung pongkor ke Barat sampai Cibaliung, di dalam kawasan tandus ini terdapat emas. Yang saya tangkap, poin yang Beliau mau sampaikan adalah bahwa tidak ada yang tidak bisa digali dan tidak bisa dikembangkan, bahkan dari 'area' yang kita lihat sulit untuk dilaksanakan atau mungkin mustahil. *CMIIW, Pak.. :)* Pak Budi juga berkata bahwa dalam 100-200 tahun ke depan, Indonesia tidak akan habis, meski banyak koruptor, yang penting kita harus working hard, pelihara hati nurani, dan jangan punya keinginan hanya untuk memperkaya diri sendiri.

Ketika saya membaca sebuah kalimat dalam buku yang dikeluarkan oleh Terangi, "A little help from everyone goes a long way," saya berkata pada Pak Budi, "Kalimat ini Bapak banget nih... =) "

Kemudian, ketika berbicara mengenai diving, saya sempat berpikir bahwa Tuhan menciptakan manusia begitu ajaib. Manusia hidup di darat. Manusia dapat menyelam ke dalam laut. Manusia bisa berada di ruang hampa udara. Ajaib memang karya-Nya. Kita memang ciptaan-Nya yang terindah.

Saat hendak pulang, ternyata ada masalah dengan transportasi yang mau kami naiki sehingga kami harus naik perahu speedboat. Ahhhhh senang sekali rasanya ketika duduk di atas speedboat dan menikmati pemandangan laut dengan hembusan angin yang begitu kencangnya. Ini pertama kalinya saya naik speedboat. What a beautiful scenery! Will be an unforgettable moment for me. Thanks God for this opportunity.

Last, but not least, a lot of thanks from the deepest of my heart to:
My Great God, Jesus Christ. Thanks, Lord.
Mr. Budi
Mr. Untung
Tuan Muda Alfin :p
Mr. Kutilang :p

Monday, January 24, 2011

Make Me As A Frog

Lord,
Have Your mercy on me
Bring me forgetting those things which are behind
And reaching forward to those things which are ahead

Kyrie eleison, Christe eleison

Friday, January 21, 2011

Napak Tilas

Hari ini saya bersama dengan teman satu sekolah dari TK sampai dengan SMP mengunjungi sekolah kami. Namanya juga sama dengan saya lho, Yuliana namanya. ☺. Sebelumnya kami dari salon dan creambath bersama. Hobi kami pun sama.

Selanjutnya, ikutilah tapak tilas kami berdua.

Begitu memasuki gerbang sekolah, yang kami jumpai di tempat koperasi adalah Mas Yudi. Dia adalah pejaga sekolah kami. 30 tahun lebih sudah dia bekerja di sana, bahkan saya pun belum lahir saat itu. Salut dengan kesetiaannya.

Setelah itu kami mengintip ruang les, di sana ada Pak Wira (guru Fisaka SMP kami) dan seperti biasa Beliau bercanda dan pura-pura tidak mengenal kami. Di sebelah ruang les itu adalah kantin dimana kami mengisi perut di sela-sela waktu istirahat. Tadinya kami mau makan nasi ayam di sana karena sudah sangat merindukan makanan tersebut, namun amat disayangkan sudah habis.

Selanjutnya kami berjalan menuju kelas terpojok di lantai 1, ruang kelas TK. Kami menjumpai guru TK kami, Ibu Sri namanya. Beliau masih ingat dengan kami lho. Katanya kami dulu yang kecil-kecil itu (dan memang sampai sekarang juga masih kecil badannya, hohoho). Beliau juga bilang kalau kami dulu itu anak-anak yang baik dan pintar (duh, jadi malu ^^). Katanya anak kecil zaman sekarang lebih sulit diajar dan tidak sepintar anak zaman dulu, padahal kalau kita lihat anak-anak kecil zaman sekarang pintar-pintar dan lebih ekspresif daripada kita dulu. Saya salut dengan pengabdian Ibu Sri sebagai guru yang telah mengajar 20 tahunan lebih. Menurut saya, mengajar seorang anak kecil tidaklah mudah dan sangat butuh kesabaran.

Selesai bercengkerama dengan Ibu Sri, kami memasuki ruang kantor guru SD. Di sana kami bertemu dengan Ibu Ani, Pak Marino, Ibu Hariati, dan Ibu Endang. Kami pun berjabat tangan dengan mereka satu per satu. Ibu Ani adalah guru TK kami, namun kini dia mengajar tingkat SD. Pak Marino adalah guru SD kelas 3 kami, dan saat berjabat tangan dengannya saya bertanya apakah Beliau masih sering menghukum dengan menggetok pulpen ke jari murid dan seisi ruang itu tertawa karena saya masih mengingat hal tersebut (tapi bukan karena saya sering dihukum lho, saya ini termasuk murid yang jarang dihukum, hehehehe, kadang penasaran juga sih rasa sakitnya seperti apa). Ibu Hariati, Beliau adalah guru SD kelas 1, cukup terkenal galak, hehe. Saya bersyukur sekali Ibu Hariati ini masih mengajar. Beliau kelahiran 1938 dan masih mengajar dengan fisik yang begitu sehat walafiat. Ibu Endang, Beliau adalah staff bagian Tata Usaha bagian TK dan SD.

Ada satu guru yang sangat ingin kami jumpai. Beliau adalah guru kesayangan kami, karena dia lembut, dia baik, dan kami diajar olehnya selama 2 tahun. Beliau adalah Ibu Yuni Lestari, wali kelas kami saat SD kelas 4 dan 5. Dahulu sewaktu sekolah, kami selalu merayakan ulang tahunnya yang bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta. Kami menunggu di depan kelas sambil berfoto-foto karena Beliau masih mengajar. Lonceng berbunyi tanda kelas telah usai (kangen juga lho dengan bunyi lonceng itu, sudah lama banget tak mendengar lonceng berbunyi), kami pun tak sabar untuk bertemu dengannya. Kami bicara panjang lebar. Saat berbincang-bincang, Beliau menasehati saya agar mencari pasangan di UPH saja agar masa depannya baik. Hohohoho.. :D

Bagai sayur tanpa garam, rasanya kurang sedap juga bila kami tidak bertemu guru SMP. Dari kejauhan saya melihat seorang wanita sedang berjalan. Saya langsung berteriak, “Laoshi, ni hao? Haojiu bujian!” Beliau adalah guru bahasa Mandarin kami yang selalu tampil keren dan fashionable meskipun usianya sudah tua. Dikiranya kami datang untuk memberikan undangan pernikahan. Hahaha.. ☺ Selanjutnya kami diajak duduk-duduk di ruang kantor guru SMP. Kami berjumpa dengan Sir Alex, guru bahasa Inggris kami. Beliau ingat dengan teman saya itu dan kenangan yang membekas baginya adalah peran kuntilanak yang dimainkan oleh teman saya itu saat pertunjukkan drama dahulu. FYI, teman saya ini berjiwa art sekali lho (meski nama kami sama, tapi sayangnya saya tidak berjiwa art), dulu dia sering gambar komik, main drama, dan sekarang ini dia aktif menari dan pandai merangkai bunga. Sir Alex adalah guru yang sangat menekankan pentingnya pendidikan. Beliau menasehatkan saya bila ada kesempatan melanjutkan studi di Swiss karena di sana bagus sambil dia mengacungkan jempolnya. Beliau juga menyarankan agar sekalian cari pasangan di sana, hahaha.. saya hanya menjawabnya, “Amin”, dan Beliau membalas, “kok Amin sih? Sadhu!” Hahaha.. :D mungkin Beliau belum tahu kalau saya sudah berpindah agama. ☺ Selain itu saya juga sempat bertemu dengan Bu Cilfia Ojong, KepSek SMP kami, namun hanya sempat berbicara sebentar karena Beliau harus segera masuk kelas dan memberikan ujian.

Arghhh, di tengah-tengah pusingnya saya menentukan topik karya akhir saya (karena yang sudah diajukan ditolak dan saya harus segera menulis lagi yang baru), senang sekali rasanya hari ini berkesempatan mengunjungi sekolah yang kecil, sederhana, namun begitu terasa suasana kekeluargaannya. Sekolah yang menyimpan begitu banyak kenangan. Saya menyaksikan sebuah pengabdian yang begitu besar dan tulus. Dari penjaga sekolah yang telah bekerja 30 tahun juga guru-guru yang telah mengabdi 20-30 tahun. Rumah mereka tidaklah dekat dari tempat mengajar. Contohnya Ibu Yuni Lestari, rumahnya di Pondok Gede, jam 5 pagi sudah harus berangkat dari rumah, tiga sampai empat kali oper kendaraan umum untuk sampai di sekolah, mengajar hingga siang dan baru tiba di rumah sore hari. Dan Beliau melakukan rutinitas ini selama 27 tahun. Wah, saya sangat takjub dengan profesi seorang guru yang begitu setia mengabdi pada sebuah sekolah. Bisa saja dia memilih sekolah yang tidak jauh dari rumahnya, kenapa harus Amitayus? Yha, itulah guru. Adalah sebuah beban dan panggilan yang Tuhan tanamkan dalam hatinya untuk mengajar di SEBUAH tempat. Tak peduli berapa jauhnya, berapa ongkos yang harus dikeluarkan, dan betapa lelahnya sepulang mengajar masih harus menghadapi macetnya kota Jakarta.

Saya sangat senang dan bersyukur boleh bertemu dengan mereka satu per satu. Tak tahu kapan kunjungan berikutnya ke sana dan memberikan undangan pernikahan seperti yang mereka kira maksud kunjungan kami hari ini. Hahahaha.. :D Doakan saja, sekiranya diizinkan berpasangan, saya dan teman saya ini dipersiapkan sebagai "Rut" yang suatu saat nanti akan dipertemukan dengan sang "Boas". Amin. :)

Guru,
Engkau pahlawanku
Engkau berjasa dalam hidupku
Terima kasih.

Wednesday, December 22, 2010

23 Desember

Di dalam satu tahun, tentunya ada tanggal-tanggal spesial bagi seseorang yang ia kenang. Entah itu tanggal dimana terjadinya hal yang menyenangkan atau pun menyedihkan. Entah itu hari lahir, hari kelulusan, hari jadian, hari pernikahan, hari putus cinta, hari meninggalnya orang terdekat, hari bencana alam yang memisahkan seseorang dengan orang-orang yang dikasihi, dan hari-hari lainnya.

23 Desember. Bukanlah tanggal yang spesial bagi mayoritas orang. Tetapi ya, bagi saya. 5 tahun sudah saya mengenang tanggal ini. 23 Desember 2005, di aula sebuah sekolah, saya dilahirkan. 23 Desember 2005 adalah hari jadi saya. Lahir dari rahim ibu saya kah? Tentu tidak, karena saya sudah ‘berkepala’ dua =). Jadian dengan seorang pria kah? Tidak. Hari itu adalah hari spesial bagiku karena saya lahir untuk kedua kalinya pada tanggal tersebut, hari jadi saya dengan Tuhan Yesus. Berputar haluan dimana selama 16 tahun saya beragama Buddha, agama yang bukan merupakan pilihanku sendiri.

Hari ini (22 Desember 2010) adalah hari terakhir saya menjadi seorang “balita” Kristen karena besok saya tidak lagi berstatus demikian. Kristen yang berarti pengikut Kristus (1 Pet 1:2). Sebuah status yang sangat sulit dan berat untuk dijalani dan dihidupi. Lima tahun sudah. Jatuh bangun saya alami beberapa kali. Malu. Menyesal. Tak layak. Tiga kata yang akan selalu ada dalam kamus kehidupan saya. Namun di samping itu, saya mengucap syukur kepada Tuhan, ketika saya jatuh, Dia tidak membiarkan saya tergeletak, tangan-Nya menopang tanganku (Mazmur 37:24). Tuhan menyadarkanku dan membangunkanku dari keberdosaan saya.

To err is human, adalah hal yang manusiawi berbuat kesalahan namun juga bukan berarti senantiasa membenarkan berbuat salah itu manusiawi lalu kita terus-menerus berbuat salah. Hal yang biasanya paling saya ingat adalah yang salah, contohnya menjawab salah pada soal ujian. Biasanya saya tidak terlalu ingat soal apa yang saya jawab betul, tapi soal apa yang saya jawab salah karena menyesal telah kehilangan poin atau nilai ujian akibat salah menjawab. Biarlah kita juga mengingat kesalahan-kesalahan karena hal tersebut telah mengurangi poin dan nilai pada hidup kita. Saat kita sadar bahwa kita salah, jangan berhenti pada kesalahan itu. Tetapi petiklah pelajaran berharga dari kesalahan tersebut. Datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan dari-Nya (1 Yoh 1:9).

Kira-kira tiga minggu yang lalu, di dalam Persekutuan Pemuda, seorang hamba Tuhan (Ev. Edward Oei) memberikan analogi.
“Saat kita berjalan, adakah kita dengan sengaja merencanakan bahwa kita akan jatuh? Tidak. Lalu apakah kita mungkin terjatuh saat berjalan? Sangat mungkin. Demikianlah saat kita hidup, kita tidak pernah dengan sengaja merencanakan untuk jatuh, tetapi sangat mungkin kita terjatuh.”
Pepatah mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Ya, memang benar adanya pepatah ini, tetapi bagaimana bila suatu hal sudah terjadi dan kita baru menyesalinya. Seorang teman menulis status dalam jejaring sosialnya tentang dirinya yang telat menyesal dan saya mengomentarinya “Lebih baik telat menyesal daripada TIDAK SADAR harus menyesal.” Adalah suatu anugrah ketika kita disadarkan untuk menyesal, terlebih lagi bila tidak hanya berhenti pada penyesalan itu saja tetapi mengerti arti sesungguhnya menyesal dan setelah menyesal tahu harus berbuat apa ke depannya. Perlukah menyesal? Jawabku, perlu dan tidak perlu. Perlu, karena hidup ini adalah BELAJAR. Tidak perlu, karena hidup ini adalah CERITA.

23 Desember 2005. Di sekolah Pusaka Abadi. Ibadah natal dengan tema “Yesus Lahir Membawa Pembaharuan” telah melahirkan dan memperbaharui saya. Only by His grace, hanya karena anugerah-Nya saja, saya yang ketika itu duduk seorang diri di bangku belakang sebelah kanan boleh melangkahkan kedua kaki saya maju ke depan saat Pdt. Afollo melakukan calling. Sejak saat itu saya menyerahkan diri saya untuk menjadi seorang Kristen. Seiring berjalannya waktu, bergantinya hari, bulan dan tahun, besok (23 Desember 2010) saya genap berusia 5 tahun. Saya mengucap syukur 5 tahun silam di sekolah yang bernama Pusaka Abadi itu, hadiah terindah dari-Nya telah dinyatakan bagiku yaitu “PUSAKA ABADI”. Saya mengucap syukur untuk Firman Tuhan yang boleh saya baca melalui Alkitab (thanks to my sister in the Lord who gave me this Great Book, you know who you are if you read this ^^) maupun yang saya dengarkan dari mimbar. Saya mengucap syukur untuk hamba-hamba Tuhan dan kakak-kakak pembimbing yang telah turut merajut kerohanian saya. Saya mengucap syukur untuk saudara-saudara seiman yang Tuhan berikan dan terus Tuhan tambahkan yang boleh saling memperhatikan, saling mendoakan dan saling mempertumbuhkan satu dengan yang lain. Saya berharap kiranya Tuhan terus memberi anugerah padaku untuk memegang erat ‘pusaka abadi’ ini dan Tuhan mau memakai saya untuk meneruskan ‘pusaka abadi’ ini kepada yang lain melalui hidup saya yang sementara.

Lord, thanks
YoeL

Friday, December 17, 2010

Dance With My Everlasting Father

back when i was a child, before the life removed all the innocence..
(dance with my father)

About 17 hours ago, my high school friend posted above status on his Facebook. The words in the bracket made me wonder about the song, so I tried to search it in Youtube. Wow, what a beautiful song and touching melody! Suddently, I miss my dad and almost want to cry, but I didn't. :)




That song bring me remind the memories I had with my father. I rare miss and think about him because I didn't so close to him when he was alive. However, sometimes in occasional moment, I do. Some things I always remember about him are:
He often rubbed my back with his rough palm, and I like it! =) FYI, my father's palm is rough because he sold durian to earn moneys. At that time, I often accompanied him and my mom sold durian and of course ate durian also. ^^ Thus, I also know how to cleave durian. So, if you need help to cleave durian, please call me. (083xxxxxxxxx) Hohoho.. :)

When the lights off at night, he often fanned me with a piece of cardboard until I fell asleep. And as like as the lyric in that song, I know for sure that I was loved by my father :)

Some days before he died, I remember he bought a enough expensive crayon for me. He bought it at Duta Buah. (you who lives at Jelambar and around, I'm sure you know this place ^^)

Life is a bunch of stories. That's a little story about me and my father. :)

Lord, when I was a child, I never danced with my father. But along the rest of my life, I want to dance with You, my Everlasting Father. Please abide with me and dance with me on this dance floor which is a sin world. My spirit indeed is willing You, but sometimes my flesh is weak. Help me to pleasant You day by day through my words, my minds, and my acts. In the name of Jesus, I pray. Amen.

Monday, December 6, 2010

Sang Pemimpi


Sang Pemimpi, novel kedua karya Andrea Hirata yang diangkat manjadi film. Menekankan cerita pada hubungan persahabatan dan persaudaraan.

Mimpi. Semua dimulai dari mimpi. Aku bekerja keras untuk meraih mimpiku. -Ikal-
Kutipan ini mirip dengan salah satu prinsip hidup kakak perempuan saya. Dia adalah seorang yang suka bermimpi jalan-jalan ke luar negri. Dia berusaha untuk mewujudkan mimpinya dan dia berhasil jalan-jalan ke luar negri walau hanya daerah Asia Tenggara. Bagi orang yang optimis, tentu saja berani bermimpi karena ia yakin bahwa apa yang dimimpikannya mampu diraihnya dimulai dari bermimpi. Lain halnya dengan kakak perempuan saya tersebut, saya bukanlah orang yang termasuk dalam golongan tersebut. Bisa dibilang saya adalah orang yang pesimis dan tidak percaya diri. Pernah ada, satu fase dalam hidup saya dimana saya begitu takut untuk bermimpi (baca: berharap). Hingga pada suatu ketika, ada salah satu mata kuliah saya yang mewajibkan kami untuk menulis karangan biografi. Dalam karangan tersebut harus ada bagian paragraf yang menceritakan harapan di masa depan. Saya tidak ingin asal-asalan menuliskannya, meski itu hanya tugas namun saya ingin menampilkan tulisan tersebut sesuai dengan kenyataan hidup saya. Maka dengan adanya tugas tersebut, saya memberanikan diri lagi untuk berani bermimpi. :)

Anak yang luar biasa. Di saat harusnya aku yang menghibur, ia malah yang membuatku tertawa. Hari itu pun jadi hari paling bahagia buatku. Aku telah menemukan sahabat baru. Hatinya sungguh selembut salju. Sejak saat itu aku berjanji ingin selalu bersama Arai. -Ikal-
Arai. Adalah anak yang dimaksudkan. Dalam cerita tersebut ia ditinggal mati oleh ayahnya. Namun pada saat berduka, justru Ikal merasa dihibur oleh Arai. Demikianlah kita pun harus seperti Arai. Dalam keadaan berduka, bila perlu kita yang menghibur orang lain. Saya percaya meski sebetulnya kita-lah yang sedang memerlukan penghiburan, tetapi dengan menghibur orang lain maka dengan sendirinya kita sudah menghibur diri sendiri. Beberapa kali teman saya bercerita tentang masalah yang dihadapinya, mirip dengan yang saya hadapi. Saya sendiri pun masih merasa sulit untuk mengatasinya. Saya mencoba untuk memberi beberapa masukan. Saya melihat ada baiknya ketika memberi penghiburan kepada orang lain di saat kita sendiri pun sedang berduka. Ketika saya merasa sedih dan down, saya hanya mengingat kata-kata yang pernah saya sampaikan kepada teman saya tersebut dan dalam hati berkata pada diri sendiri, "kamu bisa menasihati orang lain, tapi kenapa tidak pakai nasihat itu untuk dirimu sendiri?" Memang berbicara bagi orang lain itu mudah, tetapi betapa sulitnya saat dijalankan untuk diri sendiri. Namun dengan adanya pertanyaan terhadap diri sendiri tesebut, saya merasa dihiburkan dan dikuatkan dengan sendirinya.
Sahabat. Adalah hal yang indah di dalam hidup ini ketika Anda menemukan seorang sahabat. Ya, seorang sahabat saja begitu berarti daripada seribu teman biasa. Namun bukan berarti kita hanya berteman karib dengan satu orang saja. Tentu harus bergaul dengan sesama. Tetapi memiliki satu saja seorang sahabat, bagi saya adalah sesuatu yang indah. Seseorang dimana Anda bisa saling berbagi. Seseorang yang ada untuk Anda bukan hanya saat suka tetapi juga saat duka. Begitu Anda menemukannya serta mengenali hatinya, maka Anda ingin selalu bersama-sama dengannya. Dan kehilangan seorang sahabat adalah sesuatu yang amat menyedihkan. Hal inilah yang saya rasakan, karena saya sudah kehilangan beberapa sahabat saya. Setiap kali memikirkannya, saya hanya bisa meneteskan air mata. Saya berharap, meski telah kehilangan sahabat, tetapi saya boleh menjadi sahabat bagi seseorang. Saya belum sempurna menjadi seorang sahabat. Saya sedang berusaha dalam proses menjadi seorang sahabat. :)

Kalian harus tahu, betapa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Kalau kalian mampu menyusun kata-kata dengan indah, bukan saja kalian mampu membuat karya yang luar biasa, tapi kalian juga bisa membuat orang lain tergetar dengan apa yang kalian tulis atau ucapkan.
Belajarlah dimana science, sastra dan seni, diolah untuk merubah peradaban.
Dan ingat yang paling penting bukanlah seberapa besar mimpi kalian, tapi seberapa besar kalian untuk mimpi itu.
Bebaskan, bebaskan hidup kalian. Ambil resiko yang paling tinggi, supaya hidup kalian menjadi lebih kaya.
-Julian Balia-
Ya. Kata-kata itu punya kekuatan yang luar biasa, luar biasa membangun dan luar biasa menghancurkan. Tergantung bagaimana kita menyusunnya, dengan indah-kah atau dengan kasar-kah? Bila indah maka akan membuat orang lain tergetar, tapi bila dengan kasar maka akan membuat orang lain gemetar. Saya pernah khilaf dan bersalah di dalam berkata-kata. Hingga saat ini saya merasa sangat menyesal. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Ucapan yang telah saya keluarkan toh tidak dapat saya tarik kembali. Saya berharap Tuhan mengampuni saya dan orang yang saya sakiti karena perkataan saya juga mau mengampuni saya. Kemarin saya melihat status yang ditulis oleh teman saya, agak kasar isinya. Saya pun tergerak untuk bertanya padanya. Ternyata memang benar status tersebut adalah isi hatinya, bukan bercanda. Maka saya pun agak terkejut, tidak berani bertanya lebih jauh alasan di balik ia menulis kasar seperti itu karena sepertinya terlalu ikut campur. Saya hanya menasihatinya untuk menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin dan jangan mengeluarkan kata-kata kasar karena takut suatu hari nanti dia akan menyesal. Ada pepatah yang mengatakan bahwa lidah itu tak bertulang, tetapi lebih tajam daripada pedang. Mari kita sama-sama belajar untuk berhati-hati dalam berkata-kata. Memang sepertinya saya tidak pantas melontarkan ajakan ini karena saya pernah berdosa dalam perkataan, tapi saya menyesali kesalahan tersebut dan saya tidak ingin Anda juga menyesal seperti saya. Oleh karena itu, ijinkan saya mengajak kita semua untuk belajar berkata-kata dengan indah, bukan dengan kasar.
Resiko. Hidup ini harus berani mengambil resiko. Dalam persiapan presentasi mengenai hal resiko dalam mata kuliah Manajemen Stratejik, saya mencoba mengaitkannya dengan analogi orang tua yang mengajarkan bayinya untuk berjalan. Di satu sisi, orang tua tentu mengasihi anak dan takut anaknya terluka bila jatuh. Namun di sisi lain, pada saat sang bayi belajar berjalan, maka orang tua pun harus berani mengambil resiko anaknya terjatuh dan merasa kesakitan. Bila orang tua tidak berani mengambil resiko dan senantiasa melindungi anaknya terlalu berlebihan hingga tak boleh terjatuh, maka bayi tersebut akan lamban untuk bisa berjalan. Demikianlah saat kita menjalani sebuah bisnis serta menjalani hidup sehari-hari yang senantiasa dihadapkan pada pilihan-pilihan. Hidup ini penuh dengan resiko. Take it or leave it? Itu terserah Anda. Anda berani ambil, Anda akan menjadi 'kaya'. Anda tidak berani ambil, Anda akan menjadi 'miskin'.

Film ini disutradarai oleh Riri Riza dengan produsernya yaitu Mira Lesmana. Film ini didedikasikan bagi ayahanda Andrea Hirata, Riri Riza, dan Mira Lesmana serta ayah juara satu seluruh dunia. Apakah Anda menganggap ayahmu adalah ayah juara satu? Bila ya, maka film ini juga didedikasikan untuk ayah Anda. :)


http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150096501235932